Karya: Friska Gurning
Pernah aku jadi rumahmu,
menadah hujan luka yang kau bawa,
menjadi pelukan di malam-malammu yang gelap,
meski aku sendiri gemetar tanpa cahaya.
Kau hancurkan aku perlahan,
dengan janji yang hanya sebatas bibir,
dengan tatap yang tak lagi jujur,
hingga hatiku belajar mati tanpa isak.
Kini kau datang,
membawa sesal di genggaman,
menyebut namaku seakan tak pernah kau buang.
Matamu memohon,
tapi hatiku sudah jauh berlayar.
Aku bukan pelabuhanmu lagi.
Aku bukan perempuan yang akan menunggu,
yang menghapus air matamu
sementara air mataku kau biarkan membeku.
Pergilah.
Cintaku sudah kubungkus rapi,
kubakar bersama semua luka yang kau beri.
Di abu itu,
aku menemukan diriku kembali
dan di sana,
tak ada tempat untukmu lagi.

Tinggalkan Balasan