Karya: Annisa Belta Rully
(Panggung gelap, hanya ada lampu temaram yang menyoroti tengah panggung. Disana terlihat seseorang yang sedang berbaring terlentang, menatap kosong keatas. Ia bersenandung pelan, tertawa perlahan lalu tiba-tiba berteriak histeris)
ARGHH BANGSAT TOLOL BEDEBAHH! (ia pun terduduk)
Apa kalian lihat-lihat? (melotot ke arah penonton) Tidak pernah mendengar orang memaki? Aku bisa lebih berbicara kasar dari ini, tapi kutahan karena nanti tidak lolos sensor.
(melihat sekeliling lalu raut mukanya berubah menjadi frustasi) Dunia ini sudah gila, sudah sepantasnya kiamat 2012 dulu benar-benar terjadi. Kenapa aku masih hidup sampai sekarang dan menjalani hidup yang tidak layak ini? Bukan maksud kufur nikmat Tuhan, tapi ku harap aku mati sekarang juga. Bagaimana tidak?! Di zaman sekarang dimana korupsi dimana-mana, nepotisme sudah menjadi budaya dari pada kehidupan pekerjaan, hukum disalahgunakan oleh orang berpendidikan, dan kehidupan rakyat kecil sudah menjadi mainan dan akal-akalan para penguasa.
(berdiri, memandang kejauhan lalu menghela nafas) lihat disana, pemerintah sedang buat kebijakan baru yang mendobrak, ”EFISIENSI” katanya. Brandingnya sebenarnya bagus, untuk pemotongan anggaran yang tidak perlu, tapi kalau mata pencaharian rakyat kecil yang dinilai tidak perlu, itu EDAN namanya. Bagaimana bisa? Karena efisiensi anggaran negara bukan sekadar hitung-hitungan APBN. Ia menyentuh langsung manusia-manusia yang hidup dari belanja negara—terutama kelas pekerja, honorer, buruh, dan rakyat kecil yang paling rentan jika anggaran disusutkan tanpa keadilan.
(menggelengkan kepala, tertawa miris) yang lebih miris lagi, bagaimana bisa mereka orang-orang yang mengakunya berpendidikan, malah bermain-main dengan pendidikan generasi masa depan bangsa. Pendidikan sekarang ini mulai bergeser, dari fondasi pembangunan jangka panjang menjadi alat pencitraan atau beban anggaran. Meskipun masih disebut “prioritas nasional”, kenyataannya anggaran dipangkas, perhatian dikurangi, dan pelaksanaannya ditinggalkan. Pendidikan bukan lagi tulang punggung, tapi jadi bantalan cadangan—siap dikorbankan saat negara ingin “hemat”.
(pandangannya beralih kesudut kanan atas) HAHAHAHAHHAHA
Lihat tuan-tuan dan nona-nona, disaat gonjang-ganjing efisiensi, yang disana malah ketahuan korupsi sampai merugikan negara sebesar Rp 968,5 triliun. WOW, bukan lagi juta ataupun miliar, TAPI TRILIUN! (tepuk tangan) kita beri tepuk tangan perayaan terlebih dahulu atas matinya akal sehat dan nurani juragan minyak itu wahai tuan dan nona. (menghela nafas lalu terdiam sambil memegangi perut)
ARGHH LAPARR (berteriak marah) perut ini lapar sudah dua hari. Diganjal hanya oleh air dan janji-janji kosong pemerintah. (merogoh kantong dan mengeluarkan selembar sepuluh ribu) Uang hanya tinggal 10 ribu, dari pada untuk membeli makanan, apakah harusnya aku beli racun tikus saja? Biar penat dan kesusahan tak berkesudahan ini berakhir sekarang juga. Entah sudah berapa kali pikiran untuk mati saja lewat dalam pikiran, namun ternyata kepengecutan diri ini lebih besar. Bukan mati yang kutakuti, tapi kehidupan setelah kematian yang kuyakini yang membuatku masih hidup hingga saat ini.
(menengok kesamping, seperti teringat sesuatu) bagaimana ini? Bagaimana ini? BAGAIMANA INI? Tadi orang lain memintaku untuk mengerjakan tugasnya dan aku menolak. Kenapa aku berkata seperti itu? Seharusnya aku menerima dan mengiyakan seruan permintaan tolongnya. Bagaimana jika dia marah dan bepikir bahwa aku orang jahat? Tapi bagaimana bisa aku menambah pekerjaanku disaat masih ada 12 pekerjaan orang lain yang belum selesai kukerjakan? ARGHH kenapa kalian harus meminta tolong padaku disaat aku juga sangat membutuhkan pertolongan? kenapa orang-orang sangat tidak berguna? SEHARUSNYA MEREKA MATI SAJA AGAR TAK MENYUSAHKAN ORANG LAIN.
(nafasnya tak beraturan, kini pandangannya beralih pada tubuhnya sendiri, lalu mulai menangis pelan) kenapa aku sangat jelek? Harus kuapakan wajahku yang buruk rupa ini? Badanku pun tak ada bagus-bagusnya.
(terduduk lemas, pandangan menghadap keatas) TUHAN, kenapa begini? Kenapa begitu berat? Kenapa aku meng-iyakan untuk diciptakan di dunia ini setelah ditanyai 77 kali sebelumnya? Ternyata aku terlalu congkak, berpikir bisa bertahan hidup di dunia fana ini. TUHAN! KUMOHON CABUT SAJA NYAWAKU SEKARANG! AKU INGIN MATI! MATI! MATI! MATIIIII! (berteriak histeris sambil memukul-mukul kepalanya)
(Lampu panggung berkedap-kedip, diiringi oleh musik yang bertabuh semakin keras. Beberapa saat kemudian tiba-tiba lampu mati, bersamaan dengan segala suara yang menjadi senyap. Lampu menyorot ke tengah panggung, terdapat sebuah meja dan kursi, disana seseorang sedang duduk sambil melamun, pandangannya kosong dan kadang terdistorsi. Dimeja terdapat sebuah laptop dan buku yang berantakan)
(pandangannya secara otomatis fokus bersamaan dengan bunyi TAK yang membawanya ke dunia realita) huftt, mulai lagi. Lagi-lagi kepalaku sangat berisik, semua hal rasanya didebatkan (tertawa kecil) beginilah kalau sudah memasuki jam-jam rawan, pikiranku mendadak menggelar demo dadakan hahaha. Apakah tadi suaranya terlalu berisik? Maaf ya kalau mengganggu, jangankan kalian, aku saja sudah lelah menanggapi isi otak ini (berbicara dengan penonton) mungkin sudah saatnya aku berkunjung kembali ke dokter psikiaterku, rasanya obat-obat itu pun sudah tak mampu membuat suara di kepalaku diam. Mungkin aku butuh olahraga malam, berlari beberapa putaran sepertinya akan membuat suara berisik itu diam. Kalian juga harus mencoba, selain efektif bisa juga membuat tubuh kalian sehat. Aku pergi dulu ya, selamat malam bagi kita semua (berdiri dan berjalan perlahan keluar panggung diriingi lampu yang semakin redup)
–END—

Tinggalkan Balasan