Karya: Diah Nurmala Pitaloka
Dia lahir dari malam,
tanpa lentera, tanpa bintang,
wajahnya ramah seperti pagi,
tapi langkahnya sunyi,
berbau duka yang tersembunyi.
Dia baik, kata orang.
Terlalu baik hingga tak dianggap nyata.
Ia hadir saat semua pergi,
mendengar saat semua membisu,
tapi tak ada yang benar-benar melihatnya.
Matanya teduh,
tapi menyimpan tanya:
“Kenapa kebaikan terasa seperti luka?”
Tangannya memberi,
tapi selalu gemetar seperti menyembunyikan dosa.
Mereka bilang dia iblis dalam bentuk manusia,
padahal hanya karena dia tak bersinar
seperti para malaikat yang selalu tampil benar,
dengan jubah putih
yang menutupi taring.
Sementara yang jahat,
menyala-nyala dalam pujian,
mulut manis, tangan bersih,
tapi di balik tirai
mereka menyusun perangai busuk dengan halus dan pasti.
Yang benar tak pernah bersuara,
karena suaranya tenggelam dalam sorak-sorai dusta.
Yang salah dielu-elukan,
karena dosa mereka berbalut nama besar dan tepuk tangan.
Dia hanya ingin diam.
Bukan karena takut—tapi karena muak.
Menyendiri di lorong tanpa cahaya.
Karena ia tahu:
cahaya kadang lebih menyilaukan
daripada gelap yang jujur adanya.

Tinggalkan Balasan