ANAK BUMI

Karya: Faridah Rahmah Fadillah

LAMPU PANGGUNG GELAP. PERLAHAN SOROTAN MENYALA, MENYOROT SATU SOSOK PEMERAN DI TENGAH PANGGUNG. DI SEKELILINGNYA TAMPAK TANAH BERSERAK, DAUN KERING, DAN BATU KECIL.

(Mengambil segenggam tanah, merasakannya dengan jemari.)
Tanah ini… hangat. Butirannya halus. Terasa hidup di antara jemariku.

(Ia mengangkat tanah, membiarkannya jatuh perlahan ke tanah.) 

Pernahkah kita sungguh-sungguh memikirkan asal kita? Bukan hanya dari ayah dan ibu, tapi lebih jauh dari itu. Dari mana tubuh ini sesungguhnya tercipta?

(IA BERJALAN PERLAHAN KE SISI PANGGUNG KIRI, CAHAYA LAMPU MENGIKUTI GERAKNYA.)

Para ilmuwan berkata: tubuh manusia terdiri dari unsur yang sama dengan bumi—karbon, nitrogen, oksigen, hidrogen, fosfor, kalsium. Semua berasal dari tanah, air, dan udara.

Kita adalah bumi yang berjalan.

Terdengar puitis? Mungkin. Tapi inilah kenyataan. Kita bukan hanya bagian dari alam. Kita adalah alam itu sendiri.

Nenek moyang kita tahu ini jauh sebelum ada sains. Mereka menyembah bumi karena merasa satu dengan tanah yang mereka injak. Waktu kecil, ibuku bilang, “Jaga bumi, karena ia ibumu yang sebenarnya.” Aku tertawa. Bagaimana mungkin tanah yang kotor adalah ibuku? Tapi sekarang… aku mengerti.

(TARIK NAPAS DALAM-DALAM. DIAM SEJENAK. NADA SUARA BERUBAH REFLEKTIF.)

Setiap molekul tubuhku berasal dari makanan. Dan makanan itu… tumbuh di bumi, hidup dari air hujan, sinar matahari. Jika kita tarik lebih jauh, semuanya bermula dari debu bintang. Debu yang membentuk planet, menciptakan kehidupan… dan manusia.

Kehidupan?Manusia?Kita?…..

Kita hidup di bumi ini. Menghirup udaranya. Meminum airnya. Memakan hasilnya. Tapi apa yang kita berikan sebagai balasan? Kita menggali isi perutnya. Menebang pohonnya. Mencemari air dan udaranya.

Kita tamu yang tak tahu berterima kasih. Kita lupa Bumi bukan hanya tempat tinggal. Ia adalah bagian dari diri kita. Batu ini mungkin telah ada ribuan tahun. Ia akan tetap ada setelah aku tiada. Karena pada akhirnya… kita akan kembali ke bumi.

(SUASANA MENJADI TENANG, IA MENARUH BEBERAPA KERIKIL SAMBIL BERSENANDUNG DENGAN NADA SUARA MELEMBUTKEMUDIAN MEREBAHKAN BADANNYA DIATAS TANAH YANG IA PIJAK SEMBARI MENGATUR NAFAS)

Saat napas terakhir terhembus, tubuh kita terurai menjadi unsur dasarnya. Kembali ke tanah, ke air, ke udara. “Dari tanah kau berasal, dan kepada tanah kau akan kembali.”
Kita hanya pengembara. Hidup adalah pemberian. Kata orang, setiap 10 tahun, seluruh sel tubuh tergantikan. Artinya, aku secara fisik bukan orang yang sama seperti 10 tahun lalu. Lalu siapa aku?

(Tersenyum.)

Mungkin aku hanyalah cerita yang terus mengalir. Energi yang bergerak. Seperti sungai yang airnya berganti tapi tetap satu nama.

Dan energi itu… dari bumi.

(MENGAMBIL SEGENGGAM TANAH. MEMBIARKANNYA JATUH PERLAHAN DI ANTARA JARI.)

Tubuh ini hanyalah pinjaman. Kita meminjam molekul dari bumi, lalu mengembalikannya. Setiap napas mengandung atom dari dinosaurus, pohon kuno, lautan purba. Kelak, atom tubuh kita akan menjadi bunga, hujan, atau kupu-kupu. Kita semua terhubung. Tidak ada yang benar-benar sendiri.

(IA MENARIK NAFAS PANJANG SAMBIL MERATAPI LANGIT YANG AMAT JAUH DIPANDANG)

Itu sebabnya kita damai saat menyentuh alam. Kaki di pasir. Tangan menyentuh kayu. Menghirup udara pegunungan. Itulah saat kita pulang. Jadi, bukan “apa yang bisa kita ambil dari bumi?” Tapi… “bagaimana kita bisa hidup sebagai bagian dari bumi?”

Bagaimana kita menghormati siklus kehidupan? Bagaimana kita hidup dengan kesadaran bahwa setiap tindakan punya dampak?

Merusak bumi = merusak diri sendiri. Menyelamatkan bumi = menyelamatkan diri kita. Kita adalah anak-anak bumi. Lahir darinya, hidup di pelukannya, dan akan kembali padanya.

(LAMPU MULAI MEREDUP JADI REMANG-REMANG YANG HANYA MENYOROT KEARAHNYA.)

Tapi… tunggu. Bagaimana jika bumi bukan sekadar tempat tinggal? Bagaimana jika seluruh kehidupan ini hanyalah satu kesadaran besar, satu tubuh raksasa, dan kita hanyalah sel-sel kecil yang hidup di dalamnya? Dan seperti tubuh yang sakit karena satu sel rakus menjadi kanker… bumi pun menderita karena ulah kita.

(IA MENUNDUK. HENING. LALU PERLAHAN MENATAP KEMBALI KE PENONTON.)

Apa jadinya jika bumi memutuskan untuk menyembuhkan dirinya? Apa jadinya jika tubuh ini—kita—adalah bagian yang akan dibuang agar keseimbangan kembali?

(JEDA. SUNYI. LALU, PERLAHAN, SUARA MENJADI LEMBUT TAPI MENGHANTAM.)

Mungkin, menyelamatkan bumi… bukan tentang menyelamatkan planet ini. Tapi tentang menyelamatkan tempat kita dalam dirinya. Karena bumi akan terus berputar. Tanpa kita pun, ia akan tetap indah. Dalam siklus abadi kelahiran dan kematian, tarian molekul, ada kesadaran besar… kebijaksanaan purba.

Pengingat sederhana: kita tidak pernah benar-benar terpisah dari bumi.

(LAMPU MULAI BENAR-BENAR GELAP. SUARA TERAKHIR HAMPIR SEPERTI BISIKAN.)

Pertanyaannya adalah…

Akankah kita menjadi bagian dari penyembuhannya… atau menjadi kenangan dalam jejak luka yang ia pulihkan? Dari bumi kita berasal. Di bumi kita hidup. Dan kepada bumi… kita akan kembali.

(LAMPU PADAM TOTAL.)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *