TUBUH YANG TAK LAGI LANGIT

Karya: Gita Permata Sari

Malam itu,
orang-orang berubah jadi hujan
menumpahkan duka dari matanya masing-masing.
Sedang aku, langit yang dulu mudah pecah,
kini membatu
mungkin karena awan di dadaku terlalu penuh,
hingga tak tahu lagi caranya bersedih

Aku telah lama jadi gua sunyi,
menyimpan gema luka yang tak pernah selesai.
Malam itu, dinding gua runtuh,
dan aku rubuh bersama reruntuhannya.
Bukan tidur yang datang,
melainkan gelap
yang menuntunku pulang
ke tubuh yang tak mau lagi menjadi rumah.

Mataku menutup seperti pintu yang enggan terbuka,
meski lampu dunia tetap menyala.
Telingaku menangkap suara,
tapi tubuhku hanyalah daun yang patah,
tak lagi bisa bergetar walau angin berteriak.

Lalu, dari dada yang telah lama mengunci badai,
keluar angin topan tak bernama.
Aku terurai,
menjadi hujan deras yang menyerbu tanah tanpa ampun.
Tangis meledak tanpa aba-aba,
amarah menjelma bara yang menyentuh kulitku sendiri.
Aku menjerit seperti bumi yang lelah berputar,
dan menyakiti diriku
seperti langit menyalakan petir ke tubuhnya sendiri.

Aku adalah kapal pecah
yang marah karena memilih lautan ini.
Menyesali peta
yang kutarik dengan tangan gemetar.
Namun waktu telah membeku,
dan bubur tak bisa kembali jadi beras.

Malam itu,
di ujung langkah sebelum panggung menelanku
bukan sekadar waktu,
melainkan pintu menuju gua luka
yang terus berdengung di rusuk.
Di sana,
aku bukan sekadar runtuh
aku hilang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *