Karya: Amirah Al-Adawiyah
Setiap pagi,
ia menyisir waktu
dengan sisir paling rapi
mencari gores yang nyaris tak ada
di cermin yang tak pernah retak.
Ia menyusun ulang napasnya,
menimbang senyum
dengan penggaris ketat
yang tak pernah merasa cukup.
Tangannya sibuk menghaluskan debu
yang tak pernah selesai turun,
sementara matahari di ambang jendela
berkali-kali mengetuk,
lalu pulang.
Ia tak sempat duduk.
Tak sempat memandang langit
yang sudah menua di atas kepala.
Segalanya harus sempurna,
hingga ia tak pernah benar-benar
hidup di dalamnya.

Tinggalkan Balasan