Karya: Rara Ajeng Annisa Jannah
Pagi yang belum sepenuhnya terang,
dalam secangkir kopi hangat,
dalam langkah kaki pulang,
dalam pelukan yang tak perlu kata,
hingga malam yang menghantarkan harapan, meski termangu tanpa kata.
Bahagia itu….
Bukanlah rumah mewah dengan barang-barang bermerk,
tapi ketemu mie instan di rak dapur, jadi pesta kala isi dompet kabur.
Bukan saat bisa liburan ke luar negeri,
tapi ketika Wi-Fi lancar dan gawai menyala tanpa letih.
Ia bukanlah sebuah tawa yang selalu riuh,
kadang ia berbisik pelan di sela-sela napas yang tenang.
Kebahagiaan,
tidak selalu terang bagi dunia,
tapi cukup hangat bagi kita,
ia tumbuh di antara harapan dan lelah.
Ia bukan milik mereka yang punya segalanya,
tapi milik mereka yang bisa melihat secukupnya,
bahwa cukup adalah anugerah,
dan syukur adalah taman bunga yang indah.

Tinggalkan Balasan