DUA CANGKIR UNTUK KITA

Karya: Paraswati

Aku duduk di hari yang biasa
Mengaduk teh yang tak terlalu manis
Seperti pagi-pagi dulu, waktu kau masih suka mencubit pipiku diam-diam
dan bilang “Jangan cepat-cepat besar.”

Kita tak pernah bertengkar besar
Tapi juga tak banyak berkata
“Maaf,” “Terima kasih,”
atau hal-hal kecil yang katanya penting
Tapi kita percaya… hati tahu sendiri, bukan?

Ternyata
yang paling hilang adalah hari biasa
bukan pelukan terakhir, bukan tangisan
tapi piring kosong yang tak disingkirkan
dan kursi makan yang dibiarkan terisi angin

Kalau aku sempat berkata sesuatu,
mungkin hanya, aku tak marah… aku hanya rindu.
Dan kau tak harus kembali
cukup duduk sebentar, di dalam tidurku.
Kalau kau mendengar…
aku masih menyeduhkan dua cangkir.

Satu untukku.
Satu… kalau-kalau kau pulang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *