MATRA TERAKHIR DI HUTAN MATI

Karya
Fritalia

Monolog satu tokoh – Lelaki Tua Penjaga Rimba
Genre: Magic – Horor – Tragedi

Panggung:

Gelap. Di tengah panggung berdiri pohon besar mati, kering kerontang. Akar-akar menjulur seperti tangan. Cahaya sorot remang-remang jatuh pada LELAKI TUA, berpakaian compang-camping dari lumut dan kulit kayu. Wajahnya dipenuhi garis usia dan tatapannya kosong, namun tajam seperti menembus zaman.

LELAKI TUA (melangkah ke tengah, bergumam pelan, penuh dendam dan duka):

(Suara gemetar)

001 : Tiga ratus musim hujan telah berlalu… dan aku masih di sini… 002 : Menjaga tulang-tulang rimba yang dulu bernyanyi.

003 : Kau dengar itu? (Senyap)

004 : Tidak? Tentu saja tidak.

005: Karena kalian telah mematahkan setiap seruling daun, memadamkan suara katak, dan membungkam bisik angin.

  1. : Dulu… tempat ini adalah altar.
  2. : Tempat roh-roh berkumpul, tempat mantra tumbuh bersama akar dan jamur.
  3. : Di sini, harimau berbicara dalam mimpi, dan burung-burung menulis puisi di langit pagi.

(Suaranya menjadi pahit, getir)

  1. : Tapi kalian datang… dengan mesin, dengan beton, dengan rakus yang tak bisa dipuaskan bahkan oleh seribu hutan.
  2. : Kalian tebang satu pohon, lalu dua, lalu seluruh silsilahnya.
  3. : Kalian bunuh satu spesies, lalu kalian lupa… dan kemudian kalian menyebutnya “kemajuan”.

Melangkah lebih dekat ke pohon mati, menempelkan telinga pada batangnya. 012 : Ia dulu bernama Sakara.

013 : Ia tahu rahasia hujan dan nama-nama yang tak boleh diucapkan manusia. 014 : Ia kini hanya kulit—kering, diam. (Senyum gila)

015 : Tapi aku masih bisa mendengarnya… kalau aku bisikkan mantra yang dulu diajarkan kelelawar malam.

Dengan suara rendah dan menggetarkan, seolah mengucap mantra 016 : Suara akar, bangkitlah…

017 : Panggil roh yang terkubur dalam debu beton…

018 : Ajak mereka menari dalam ingatan terakhir…

Pause panjang. Angin tiruan berdesir. Cahaya berkedip. Horor mulai merayap. 019 : Kau tahu apa yang paling menyedihkan dari keanekaragaman hayati?

020 : Bukan punahnya satu makhluk… tapi sunyinya ekosistem yang pernah saling cinta.

021 : Mereka saling jaga. Saling isi. Saling jalin seperti jaring bintang di langit. Lalu kalian datang dengan gergaji dan janji palsu: “Ini untuk pembangunan.”

Suaranya berubah menjadi keras dan penuh amarah. 022 : Pembangunan?

023 : Apa itu pembangunan kalau semua yang hidup harus mati demi jalan raya? 024 : Apa itu kemajuan kalau anak-anak tumbuh tanpa tahu suara burung hantu? 025 : Kalian ajarkan mereka nama-nama negara, tapi lupakan nama-nama pohon.

026 : Ajarkan angka-angka ekonomi, tapi tak satu pun tahu kapan musim anggrek mekar. Jeda. Ia menarik napas panjang. Kini suaranya lirih, seperti doa.

027 : Aku bukan siapa-siapa. 028 : Hanya penjaga.

029 : Manusia yang dulu pernah diselamatkan oleh seekor kera, diberi makan oleh angin, dan diajari menyanyi oleh kodok rawa.

030 : Aku tak pantas membalas kalian dengan kebencian. 031 : Tapi aku tak bisa memaafkan.

Melangkah ke depan, menghadap penonton

  1. : Maka, pada Hari Keanekaragaman Hayati ini…aku beri kalian warisan: kutukan sunyi.
  2. : Setiap pohon yang kalian tebang, akan menumbuhkan kesepian dalam jiwa kalian.
  3. : Setiap hewan yang kalian punahkan, akan kembali dalam mimpi anak-anak kalian—menangis.

Jeda. Lembut dan mengerikan

  1. : Sampai kalian sadar…bahwa kalian bukan penguasa bumi. 037 : Kalian hanya tamu.
  1. : Dan kalian telah berlaku sebagai penjajah. Mundur perlahan, menoleh ke pohon, menunduk
  2. : Untuk setiap roh yang tak sempat berpamitan, aku nyanyikan mantra terakhir…

Mulai menyanyikan lagu magis, lirih, dalam bahasa kuno rekaan. Musik magis horor mengalun. Cahaya redup. Angin berhembus.

TIRAI TURUN.

Akhir Monolog.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *