Istana Di Balik Waktu

Karya
Rima Putri Kertamuda

Penulis: Rima Putri Kertamuda

Genre: Drama, Romance, Surealis

Waktu: Tahun 2025 & Tahun 10800 M

Tempat: Hotel Dendam Arwah – dua lantai (atas: kamar Ratu & perpustakaan, bawah: lobi, ruang kerja, altar)

TOKOH – TOKOH 

1. Ratu: Dingin, bijak, penuh luka masa lalu. Seorang ratu abadi yang terjebak dalam waktu dan dendam. Penjaga Hotel Dendam Arwah.

2. Pria / Arga Yudistira: Tulus, penyendiri, sensitif. Manusia biasa yang tersesat di hotel, ternyata menjadi kunci bagi penyembuhan dendam sang Ratu.

3. Resepsionis: Tenang, misterius, loyal. Penjaga hotel yang tahu rahasia waktu dan nasib. Penghubung antara manusia, Ratu, dan Dewa.

4. Suara Dewa Kematian: Datar, agung, tak terbantahkan. Entitas yang memberi pilihan pada Ratu untuk menyelesaikan dendam lewat pengorbanan.

5. Tamu Arwah: Bermacam -macam karakter. Jiwa baru yang datang ke hotel, mewakili jiwa-jiwa lain yang belum bisa pulang dengan tenang.

SINOPSIS:

Ratu, seorang penjaga abadi, hidup di antara puing dendam dan cinta yang tak selesai. Ia tinggal di hotel tua yang hanya bisa dilihat oleh mereka yang ditakdirkan—tempat arwah-arwah datang mencari penebusan. Suatu hari, seorang pria bernama Arga tersesat ke hotel itu saat mencari pekerjaan. Ia manusia biasa, namun ternyata membawa takdir luar biasa: menjadi kunci penghabisan dari dendam Ratu yang telah membatu selama ribuan tahun.

Saat Arga mulai memahami dunia di balik hotel itu, ia terlibat dalam perjalanan emosional Ratu—tentang cinta yang dihancurkan, pengkhianatan yang mengabadi, dan tawaran pengorbanan yang bisa mengakhiri segalanya. Namun, di tengah gelap dan dingin dendam, muncul percikan hangat: kedekatan mereka yang pelan-pelan menyembuhkan. Ketika waktu menuntut korban terakhir, pilihan mereka bukan tentang balas dendam… melainkan tentang siapa yang sanggup mencintai, meski tahu segalanya bisa berakhir.

 Istana di Balik Waktu  adalah kisah surealis tentang kehilangan, pengampunan, dan cinta yang tak pernah memilih waktu yang tepat—namun selalu datang saat dibutuhkan.

ADEGAN 1 – MALAM YANG TERULANG

Lampu temaram. Lantai atas hotel. RATU duduk di sebuah kamar yang tampak mewah namun usang. Ia mengenakan jubah hitam. Di depannya sebuah buku tebal terbuka. Di halaman-halaman, tertera kisah hidupnya dalam tinta merah tua.

1. RATU : Malam ini seperti malam itu. Saat sunyi jadi jerit, dan cinta jadi abu.

Ia menyentuh halaman terakhir buku. Tertulis:  Belum selesai. Karena dendam belum menemukan bentuk terakhirnya. 

2. RATU : Kisah ini sudah dicetak sebelum waktunya… tapi waktu memang tak pernah meminta izin.

Ia berdiri. Resepsionis muncul di ambang pintu, tubuhnya samar, wajahnya datar.

3.RATU : Kau bilang… waktu akan mengirim penebus?

4. RESEPSIONIS : Malaikat Maut menitip pesan. Dendammu akan kembali, membawa bala bantuan manusia.

5. RATU : Manusia? Mereka yang dulu membakar istanaku?

6. RESEPSIONIS : Bukan semua manusia membakar. Satu akan datang membawa pilihan baru.

7. RATU : Kalau benar, maka biarkan ia masuk. Kalau salah… biar aku yang menghapus namanya dari sejarah.

Ratu menutup buku dengan suara berat. Lampu berkedip. Di bawah, suara pintu depan terbuka pelan.

ADEGAN 2 – PINTU WAKTU TERBUKA

Lobi hotel. PRIA masuk dengan koper dan map lamaran kerja. Nafasnya terburu. Ia tampak lelah dan bingung.

8. PRIA : Ini… pasti bukan Hotel Antariksa Raya. Tapi taksi berhenti di depan sini…

Ia memencet bel resepsionis. Tak ada yang menyahut. Ia melangkah lebih dalam.

9. PRIA : Halo? Saya Arga. Ada wawancara kerja, katanya pukul dua siang. Tapi GPS-nya kacau.

10. RESEPSIONIS (muncul tiba-tiba) : Kau sudah tepat waktu. Dan tempatnya pun benar.

11. PRIA : Maaf… ini hotel apa, ya?

12. RESEPSIONIS : Hotel Dendam Arwah. Yang hanya tampak bagi mereka yang ditakdirkan.

Tangga kayu berderit. RATU turun perlahan. Wajahnya tenang tapi menusuk. Pandangannya langsung pada PRIA.

13. RATU : Namamu?

14. PRIA : Arga Yudistira. Saya… hanya ingin bekerja.

15. RATU : Atau mungkin… kau datang untuk menyelesaikan sesuatu yang tak bisa kukubur.

16. PRIA : Saya tak mengerti…

17. RATU : Tak perlu. Hatimu akan mengerti lebih dulu daripada pikiranmu.

18. RESEPSIONIS: Ia manusia yang disebut dalam pesan itu. Yang membawa bala bantuan bagi dendam yang membatu.

19. RATU : Maka biarkan dia tinggal. Sampai waktunya tiba.

Lampu bergeser. PRIA menatap RATU sejenak sebelum dibawa naik.

__________

ADEGAN 3 – RUANG BALAS DENDAM

Lantai bawah. Ruang kerja hotel. Tumpukan map dan surat-surat di atas meja besar. Nama-nama orang terukir di kertas-kertas berwarna hitam. PRIA mengenakan seragam hotel, namun masih tampak asing dengan tempat itu. Cahaya lampu remang-remang menyinari satu sudut ruangan tempat sebuah buku hitam terbuka.

20.PRIA : Semua ini… permintaan balas dendam?

21.RATU : Mereka datang dari waktu yang tak dihitung manusia. Dari masa lalu, masa depan, dan masa yang tak pernah jadi kenyataan.

22.PRIA : Tapi beberapa… hanya ingin didengar.

23.RATU : Karena suara mereka tak pernah sampai ke Tuhan.

24.PRIA : Kau membaca semua ini sendiri?

25.RATU : Aku tak tidur. Tak lapar. Tak mati. Aku hanya… menunggu.

26.PRIA : Menunggu apa?

27.RATU : Dendam terakhir. Yang akan membuka pintu pulang.

28.PRIA : Tapi ke mana kau pulang… jika semua telah musnah?

29.RATU : Ke tempat di mana cinta pernah hidup.

Resepsionis masuk dari pintu samping, membawa berkas baru. Ia diam sejenak, lalu menatap PRIA.

30.RESEPSIONIS : Hotel ini tak dibangun dari batu, tapi dari perjanjian. Dan Ratu bukan sekadar penjaga… ia adalah penunggu yang terikat oleh luka yang tak pernah sembuh.

31.PRIA : Siapa sebenarnya dia… sebelum semua ini?

32.RESEPSIONIS : Ia adalah putri mahkota. Kekasih dari seorang pria yang kemudian menghancurkan segalanya. Pria itu… membunuh keluarganya. Tapi bukan karena benci.

33.PRIA : Lalu… kenapa?

34.RESEPSIONIS : Karena dendam juga diwariskan. Orang tua pria itu dibunuh oleh ayah Ratu—seorang raja, demi menjaga rahasia yang tak boleh keluar dari istana. Cinta mereka menjadi korban takdir berdarah.

35.PRIA : Lalu kau? Bagaimana kau bisa ada di sini?

36.RESEPSIONIS : Aku… hanyalah anak yatim yang hampir dijual sebagai budak. Tapi Ratu menyelamatkanku. Memberiku nama, tempat, dan hidup.37. RESEPSIONIS (menunduk pelan): Sejak hari itu, aku bersumpah akan menjaganya. Karena tanpa dia, aku mungkin tak lebih dari arwah yang terbuang.

Ia menunjuk buku hitam besar di meja.

38.RESEPSIONIS : Buku itu adalah kisahnya. Dan kisahku. Juga kisah para arwah yang datang ke sini. Dalam tinta itu tercetak perjanjian kami dengan Malaikat Maut.

39.PRIA : Perjanjian?

40.RESEPSIONIS : Bahwa kami tidak akan menjadi arwah jahat… asal dendam kami disampaikan. Asal ada satu jiwa yang sanggup menanggung dan mendengarkan.

41.PRIA : Dan kau tetap di sini… selamanya?

42.RESEPSIONIS : Jika itu harga untuk membalas kebenaran yang dilupakan… maka ya.

PRIA mendekat ke buku, menyentuh halaman yang terbuka.

43.PRIA : Tapi kisah ini… belum selesai.

44.RESEPSIONIS (pelan): Belum. Karena mungkin, untuk pertama kalinya, dendam ingin diselesaikan bukan dengan kematian… tapi dengan keikhlasan.

Lampu meredup perlahan. RATU berdiri di bayang-bayang, menatap PRIA dan RESEPSIONIS. Pandangannya sulit dibaca—antara waspada, takut… dan berharap.

PRIA masih menatap buku hitam. Tangannya menyentuh halaman terakhir yang terbuka. Tulisan tinta merah tampak berdenyut samar seperti nadi yang belum berhenti berdetak.

45.PRIA (pelan): Kalau semua kisah ini tentang dendam… lalu siapa yang menulis cinta yang hilang?

RATU muncul dari balik bayangan. Suaranya datar, namun penuh lapisan rasa yang tersembunyi.

46.RATU : Tidak semua cinta pantas ditulis. Ada yang hanya pantas dikenang… dalam diam.

47.PRIA : Tapi jika diam terlalu lama… ia berubah jadi bisu.

48.RATU (menatapnya tajam): Kau bicara seolah kau tahu rasanya kehilangan segalanya.

49.PRIA (menatap balik, tak gentar): Karena aku tahu. Aku kehilangan masa depan… saat kehilangan orang tua yang selalu kusempatkan nanti. Tapi hidup tak pernah menunggu.

50.RESEPSIONIS (mendekat pelan): Maka mungkin itulah alasan kenapa kau bisa melihat hotel ini. Dan kenapa Ratu… bisa mulai mendengarkan lagi.

RATU mengalihkan pandangannya. Ia tampak goyah, tapi mencoba berdiri tegak.

51.RATU : Aku tidak mendengarkan. Aku hanya… tak ingin menyesal dua kali.

PRIA melangkah pelan mendekatinya, tapi masih menjaga jarak. Matanya tulus, penuh empati.

52.PRIA : Mungkin… untuk menyembuhkan dendam, seseorang harus cukup gila untuk datang bukan membawa pedang… tapi harapan.

Hening. Untuk pertama kalinya, Ratu tak membalas. Tapi tak juga mengusir. Ia berbalik menuju tangga.

53.RESEPSIONIS (lirih, pada PRIA): Ia ke balkon. Malam ini… tiga bulan muncul. Itu pertanda langit sedang membuka luka lamanya.

54.PRIA (pelan): Aku akan menyusul. Tapi tak untuk menyembuhkan. Hanya… untuk menemani.

PRIA mengambil berkas dari meja. Lalu berjalan menuju lantai atas. Musik latar mulai berubah, atmosfer perlahan menjadi lebih hangat namun masih diliputi bayangan. Kamera (atau sorotan panggung) mengikuti langkahnya naik perlahan.

ADEGAN 4 – CAHAYA DALAM DENDAM

Lokasi berubah ke balkon lantai atas. Angin malam berembus lembut. Tiga bulan tergantung di langit, seperti mata yang tak berkedip. RATU berdiri sendirian di tepi pagar balkon, jubahnya bergetar oleh angin. Suara-suara arwah terdengar dari kejauhan: jeritan, bisikan, tangisan samar.

SUARA-SUARA ARWAH : Dendam kami… balas dendam kami…

PRIA muncul di ambang pintu balkon. Ia melihat RATU dari belakang, namun tak segera menghampiri. Ia meletakkan berkas di meja kecil di sisi balkon. Kemudian berdiri diam, cukup lama untuk menunjukkan ia tidak datang untuk menginterupsi, tapi menemani.

55.PRIA (pelan): Kau sering ke sini tiap malam…

56.RATU : Aku suka mendengar suara langit. Ia tak pernah berbohong, tak seperti manusia.

57.PRIA : Tapi manusia bisa berubah.58. RATU (menoleh setengah, tersenyum lelah): Kau selalu muncul… saat aku hampir jatuh.

59.PRIA : Mungkin karena aku pernah jatuh juga. Tapi tak ada yang menangkapku waktu itu.

60.RATU (diam sesaat, lalu lembut): Lalu kenapa sekarang ingin menangkap orang lain?

61.PRIA (lirih): Karena kali ini, kalau aku biarkan jatuh… aku akan ikut jatuh juga.

RATU terdiam. Mereka berdiri bersebelahan. Tidak menyentuh, tapi jarak di antara mereka lebih kecil dari sebelumnya. Langit memantulkan cahaya ke wajah mereka.

62.RATU : Hatiku adalah medan perang, tapi kau datang membawa kedamaian.

63.PRIA : Mungkin karena aku tak punya apa-apa lagi selain itu.

Untuk pertama kalinya sejak awal cerita, wajah RATU benar-benar tampak damai—meski hanya sekejap.

MONOLOG RESEPSIONIS : SISIPAN KILAS BALIK – DALAM BAYANG CAHAYA

Lokasi: Balkon masih menjadi latar. Kamera (atau sorotan lampu) meredup perlahan dari Ratu dan Arga, menyisakan suara naratif lirih dari suara-suara arwah, yang kini berubah menjadi suara Resepsionis.

NARASI RESEPSIONIS (VO)

 Ia bukan terlahir sebagai penjaga dendam. Ia adalah putri mahkota. Dikasihi, dicemburui. Tapi cinta pertamanya… adalah takdir kehancurannya. 

Cahaya panggung berpindah ke ruang gelap. Muncul bayangan RATU MUDA dan KEKASIHNYA di taman istana—saling menatap penuh harapan. Kemudian, berubah cepat menjadi istana terbakar. Teriakan. Pengkhianatan.

NARASI RESEPSIONIS (VO)

 Kekasihnya—pembunuh keluarga Ratu—membawa luka yang lebih tua. Balas dendam karena ayahnya dulu dibunuh Raja karena tahu rahasia kelam: raja telah menjual anak-anak desa untuk menjaga kekuasaannya. 

Bayangan resepsionis kecil muncul—muda, dekil, dipaksa masuk ke kandang budak. RATU MUDA melihatnya, lalu menghunus pedang. Menyelamatkannya.

NARASI RESEPSIONIS (VO)

 Aku… adalah anak yatim piatu yang hampir dijual. Ia menebus hidupku dengan pedangnya. Sejak hari itu, aku bersumpah… untuk tidak pergi dari sisinya. 

Cahaya kembali ke balkon. Ratu menatap Arga, namun sorot matanya kini bukan hanya tentang dendam, tapi luka dan kehilangan yang lama terpendam. Musik mengalun—pelan, melankolis, tapi tidak gelap.

ADEGAN 5 – PENGAWAL SEJATI

Lokasi: Ruang meditasi. Dindingnya penuh cermin retak. Di tengah ruangan, RATU duduk bersila. Lilin kecil menyala di sudut ruangan. PRIA masuk pelan, membawa secangkir teh hangat dan roti kecil.

64.PRIA (menaruhnya di samping RATU): Aku tak tahu teh ini masih hangat atau tidak, tapi… kurasa kau lupa makan lagi.65.

RATU (menatapnya, lalu mengambil cangkir dengan pelan):Kau memperlakukanku seperti manusia.

66.PRIA:Karena kau memang masih punya hati. Aku melihatnya… setiap malam kau menatap langit sendirian.

RATU diam. Ia mencicipi tehnya. Perlahan.

67.PRIA (duduk di lantai, menjaga jarak):Aku tahu arti sepi. Aku pernah takut pulang… karena aku malu. Karena belum berhasil, belum jadi apa-apa.

68.PRIA (suaranya menurun):Tapi saat aku siap pulang… orang tuaku sudah pergi. Dan semua diam yang kutinggalkan… kembali padaku sebagai penyesalan.

RATU menatapnya. Kali ini, bukan dengan sinis, tapi dengan keteduhan.

69.RATU (pelan):Itulah sepi yang sebenarnya. Bukan saat sendiri… tapi saat kenangan tak mau pergi.

70.PRIA (tersenyum lemah):Mungkin itu alasan aku bisa memahami sepi dalam dirimu. Karena sepi kita… saling mengenal.

Ruangan menjadi hangat bersama momen mereka. Bayangan RATU dan PRIA duduk berdampingan—bukan dari masa lalu, tapi kemungkinan masa depan.

71.RATU:Aku tak pernah izinkan siapa pun masuk ke ruang ini.

72.PRIA:Tapi kau tetap membiarkanku membawa teh.

RATU tersenyum. Perlahan, ia menyentuh cangkir dan jari mereka bersentuhan sejenak. Tak disengaja, tapi cukup untuk mengirim gelombang rasa ke dada masing-masing.

RESEPSIONIS muncul diam-diam di ambang pintu, menyaksikan dari kejauhan. Wajahnya tidak iri, tidak takut—tapi tenang, seolah lega melihat luka Ratu perlahan sembuh. RESEPSIONIS (VO, pelan):

Jika cinta bisa membawa kehancuran…

Maka biarlah cinta yang juga menyelamatkannya kembali.

Lampu perlahan meredup. Musik mengalun lembut. Suara arwah di latar tak lagi menjerit… tapi berbisik lembut, seolah berterima kasih.

ADEGAN 6 – TAWARAN PENGORBANAN

Lokasi: Aula Tengah Hotel. Ruangan besar ini kini bersinar redup dari api altar di tengah ruangan. Dinding-dinding dihiasi tulisan kuno dan simbol roh. Lilin-lilin menyala, membentuk lingkaran. Udara terasa berat.

RESEPSIONIS berdiri di ujung ruangan. RATU berjalan pelan ke altar, mengenakan jubah merah darah. PRIA mengikuti, tak tahu apa yang akan terjadi. Sebuah suara besar, dalam, dan tak berasal dari dunia ini menggetarkan seluruh ruangan:

73.SUARA DEWA KEMATIAN (datar, agung):Waktunya tiba. Kau bisa membalas… dan kembali.

74.RATU (menatap altar, suaranya gemetar tapi kuat):Tapi… pada siapa?

75.SUARA DEWA:Tiga nama: Raja. Panglima. Pengkhianat.Kau tahu darah siapa yang harus tumpah.

76.PRIA (berusaha memahami):Tapi yang terakhir… bukan dia. Dia… kekasihmu, bukan?

RATU menggigil. Matanya mulai basah. Kenangan itu menyerbu: wajah kekasihnya, pengkhianatan, dan malam pembantaian.

77.RATU:Ia membunuh seluruh istana… termasuk ibuku. Tapi… aku juga tahu kenapa ia melakukannya. Ayahku membunuh keluarganya lebih dulu.

78.SUARA DEWA:Balas dendammu tak akan selesai… sampai darah yang terakhir jatuh.

79.RESEPSIONIS (dari sisi ruangan):Dan jika tak dilunasi… ia akan berubah. Menjadi arwah tanpa wujud. Tanpa akhir. Perjanjian telah dibuat. Jiwa-jiwa lain juga menggantung padanya.

Altar mulai menyala terang, seperti bereaksi terhadap keputusan yang tertunda. RATU memejamkan mata. Air matanya jatuh. PRIA melangkah maju, tiba-tiba.

80.PRIA:Ambil aku. Aku akan menggantikannya.

81.RATU (membuka mata, teriak marah):TIDAK!

82.PRIA (menatapnya tenang):Hidupku sudah penuh penyesalan. Tapi kalau kali ini… aku bisa membuat seseorang hidup—benar-benar hidup—Maka itu cukup bagiku.

RATU berlari ke arahnya, menahan tubuhnya, matanya penuh luka dan takut kehilangan.

83. RATU:Kau… bodoh.

84.PRIA (tersenyum lembut):Tapi kau akan ingat aku, kan?

85.RATU (pelan, nyaris berbisik):Aku bahkan belum belajar bagaimana melupakanmu…

PRIA menyentuh rambut Ratu, lembut, menyibakkan satu helaian yang menutupi matanya. Mereka berdiri sangat dekat. Altar bersinar makin terang—tapi tiba-tiba redup…

86.RATU (berbisik):Jangan mati… karena aku tak sanggup kehilangan lagi.

87.PRIA:Maka mari kita hidup……meski hanya sebentar.

Keheningan menyelimuti ruangan. Altar berhenti menyala. Suara dewa… hilang. Bahkan RESEPSIONIS terlihat terkejut dan terharu. Dinding-dinding hotel perlahan bergetar ringan—tapi bukan karena amarah, melainkan kelegaan.

RESEPSIONIS menunduk dalam. Perlahan, ia berseru:

88.RESEPSIONIS:Perjanjian telah… berubah. Karena pilihanmu bukan tentang balas dendam. Tapi pengorbanan yang tulus.

Lampu perlahan meredup. RATU dan PRIA berdiri saling menggenggam tangan. Untuk pertama kalinya, tak ada dendam. Hanya manusia, dan hati yang bersedia mengalah demi yang lain.

ADEGAN 7 – PERPISAHAN YANG SUNYI

Lokasi: Hotel, malam yang tenang. Altar telah padam, namun suasana masih dipenuhi perasaan yang mendalam. Lilin-lilin menyala redup, menciptakan bayangan samar di seluruh ruangan. Resepsionis berdiri di depan pintu utama hotel, menatap langit malam yang luas. RATU duduk di pojokan ruangan, tampak melamun dengan tatapan kosong. PRIA, yang berdiri di dekat altar, merasakan suasana semakin berat.

RESEPSIONIS akhirnya melangkah maju. Meskipun wajahnya tampak tenang, ada perasaan yang tak terungkapkan. Dia menoleh kepada RATU dan PRIA, dan berbicara dengan suara lembut yang penuh makna:

89. RESEPSIONIS (suara pelan, namun penuh kehangatan) : Aku merasa sudah waktunya untuk pergi. Tugasku di sini telah selesai.

90. RATU (menatapnya dengan penuh kebingungan, tidak berkata apa-apa) :Kenapa? Apa yang terjadi? Bukankah kita masih membutuhkanmu?

RESEPSIONIS tersenyum lembut, matanya yang tadinya penuh penyesalan kini dipenuhi dengan ketenangan yang dalam. Dia melangkah lebih dekat dan menatap Ratu dan Pria dengan penuh pengertian.

91. RESEPSIONIS : Kau, Ratu, sudah mendapatkan ketenangan yang kau cari. Kau sudah mengalahkan masa lalu yang membelenggumu. Sekarang, saatnya aku untuk pergi. Aku tidak bisa lagi mengganggu perjalananmu.

92. PRIA (terkejut) :Tapi… kita masih membutuhkanmu. Kau yang selalu ada untuk kita.

Resepsionis menggelengkan kepala dengan lembut, menghela napas panjang.

93. RESEPSIONIS : Namun aku… sudah lama merindukan keluargaku yang telah pergi. Mereka menungguku, dan aku sudah lama belum bertemu mereka. Aku tahu, ini saatnya.

Ratu dan Pria terdiam. Mereka bisa merasakan ketulusan dalam kata-kata Resepsionis. Resepsionis telah menjalankan tugasnya dengan penuh kesungguhan, membimbing mereka melalui perjalanan yang penuh dengan penderitaan dan penyesalan. Kini, waktunya untuk beristirahat, untuk kembali kepada keluarga yang sudah lama meninggalkannya.

94. RATU (suara bergetar, hampir berbisik) :Kau benar-benar akan pergi?

Resepsionis tersenyum lagi, senyum yang penuh kedamaian. Dia melangkah menuju pintu, namun berhenti sejenak di ambang pintu dan menoleh sekali lagi ke arah mereka.

95. RESEPSIONIS (dengan suara lembut) :Jaga dirimu baik-baik. Kalian berdua sudah kuat, dan kalian akan baik-baik saja. Jangan pernah lupakan apa yang telah kita lalui bersama. Semoga jalan kalian selalu terang.

Dengan satu langkah terakhir, Resepsionis melangkah keluar dari pintu dan menuju malam yang sunyi. Ratu dan Pria hanya bisa memandangnya pergi, dengan hati yang berat dan penuh perasaan.

ADEGAN 8 ( Perpisahan Menyayat)

Keesokan harinya, setelah malam yang penuh ketenangan, PRIA terbangun dengan perasaan berat di dadanya. Semalam, ia merasa ada sesuatu yang berbeda. Di dalam tidurnya, ia bermimpi bahwa Ratu berusaha meninggalkannya, dan ia merasa seolah dunia runtuh di sekitarnya. Namun, saat ia bangun, kenyataan itu masih menyelubungi dirinya. Ada kesedihan yang dalam di matanya—sesuatu yang tak bisa dijelaskan.

Ia keluar dari kamarnya, berjalan dengan langkah ragu menuju kamar Ratu. Pintu terbuka perlahan, dan di sana, Ratu berdiri di depan jendela, memandang keluar dengan tatapan kosong. Pria mendekat, hatinya terasa tercekik, seakan sesuatu yang besar akan segera terjadi.

98. PRIA (suara bergetar, pelan) :Ratu… ada apa? Kenapa kau terlihat seperti itu? 

Ratu menoleh ke arahnya, wajahnya dipenuhi dengan kesedihan yang dalam, meskipun ia berusaha tersenyum lemah. Ia mengangkat tangannya, mengusap air mata yang jatuh perlahan.

99. RATU (berbisik, dengan suara gemetar) : Aku… aku tak tahu harus mulai dari mana. Hatiku berat, Pria. Berat sekali.

Pria semakin mendekat, meraih tangan Ratu dengan lembut.

100. PRIA (suara penuh keputusasaan) : Ada apa? Kau takut pergi, bukan? Jangan pergi, Ratu. Aku tak bisa hidup tanpamu. 

Ratu menundukkan kepalanya, berjuang menahan tangis. Sakit di hatinya begitu dalam. Ia tahu perpisahan ini tak terhindarkan. Namun, hatinya, jiwanya, tak ingin melepaskan Pria.

101. RATU (dengan suara yang pecah, penuh tangisan) : Aku… aku juga tidak ingin pergi. Aku ingin tetap bersamamu, Pria. Tapi aku… aku sudah bukan siapa-siapa di dunia ini lagi. Aku berasal dari alam yang berbeda. Tak ada tempat bagiku di sini. 

Pria merasakan perasaan yang begitu dalam di kata-kata Ratu. Rasa takut kehilangan semakin menggerogoti jiwanya. Ia menarik Ratu lebih dekat, berusaha menahan waktu agar tidak terus berjalan.

102. PRIA (menangis, memeluk Ratu erat) :Tapi aku membutuhkanmu, Ratu. Aku tak bisa hidup tanpa kamu. Kamu adalah segalanya bagiku. Apa yang harus aku lakukan tanpa kamu? 

Ratu merasakan kehangatan pelukan Pria, dan hatinya semakin sesak. Air matanya terus mengalir, tetapi ia tahu, ada sesuatu yang harus dilakukan. Sebuah keputusan yang tak bisa lagi ia hindari. Ia berjuang melawan perasaannya sendiri, dan perlahan, ia melepaskan pelukan itu.

103. RATU (tersedu, berbisik pelan) : Pria… aku tak ingin pergi. Aku ingin tetap bersamamu. Tapi aku tahu, aku harus kembali. Ada yang menungguku di sana. Di dunia yang tak bisa kau jangkau. 

Tiba-tiba, udara di sekitar mereka berubah. Keheningan mendalam menghantui ruangan itu. Suara angin terdengar lembut, dan sebuah cahaya mulai menyelimuti mereka. PRIA menoleh, melihat cahaya itu perlahan datang semakin dekat. Dan dari cahaya itu, sosok yang besar dan menyeramkan mulai muncul—Malaikat Maut, yang datang untuk menjemput Ratu.

104. MALAIKAT MAUT (dengan suara menggema, datar) : Ratu, waktumu telah tiba. Jika kau menunda lebih lama lagi, kau akan hangus selamanya. Tak ada tempat bagimu di dunia ini. 

Ratu menatap Malaikat Maut dengan ketakutan. Hatinya semakin hancur. Ia ingin melawan, ingin tetap tinggal bersama Pria. Tapi di dalam dirinya, ia tahu keputusan harus segera dibuat.

105. RATU (dengan suara gemetar, tak sanggup menghadapinya) : Tapi… aku masih ingin bersama dia… Aku tak bisa meninggalkan Pria. 

Malaikat Maut menghela napas panjang, seakan memahami penderitaan yang dirasakan Ratu.

106. MALAIKAT MAUT (dengan nada yang lebih lembut) : Jika kau tetap menolak, kau akan terperangkap di antara dua dunia. Tidak akan ada jalan kembali. Pilihanmu hanya satu, Ratu. 

Ratu menatap Pria dengan tatapan yang penuh kasih, namun juga penuh kepedihan. Tangan mereka saling menggenggam erat, seolah ingin menahan waktu yang berlalu begitu cepat. Pria, yang juga merasa bahwa waktu mereka semakin sempit, menghela napas, dan mencoba berbicara dengan suara yang terisak.

107. PRIA (dengan suara penuh pengertian, meskipun hatinya hancur) : Ratu… aku tak bisa memaksamu tinggal. Jika kamu harus pergi, aku ikhlas. Pergilah, dan temui kedamaianmu. Tapi ingatlah, aku akan menunggumu. Suatu hari nanti, kita akan bertemu lagi. 

Ratu terdiam, tak bisa berkata-kata lagi. Semua kata-kata yang ingin ia ucapkan terasa begitu berat. Namun, akhirnya, ia mengangguk perlahan. Air matanya tak dapat dibendung lagi. Dengan perlahan, ia melepaskan tangan Pria, dan berdiri dengan langkah yang berat.

108. RATU (berbisik, tersenyum penuh kasih meski hatinya hancur): Pria… aku janji. Kita akan bertemu lagi. Suatu hari nanti, di surga, di tempat yang lebih baik. Aku akan selalu menunggumu. 

Dengan langkah perlahan, Ratu berjalan menuju Malaikat Maut. Malaikat Maut mengulurkan tangannya, menuntun Ratu menuju gerbang yang terang. Ratu menoleh sekali lagi ke arah Pria, dan dalam sekejap, ia menghilang dalam cahaya yang menyilaukan.

ADEGAN 8 – MIMPI PERPISAHAN

Lokasi: Kamar Pria, malam hari.

Pria terjaga dari tidurnya, jantungnya berdebar kencang. Ia baru saja bermimpi, sebuah mimpi yang sangat nyata. Dalam mimpinya, Ratu berada di hadapannya, tetapi kali ini ia tampak sangat jauh, seakan berada di alam yang berbeda.

109. PRIA (dengan suara serak, dalam mimpi) :Ratu… kenapa kau pergi? Mengapa kita harus berpisah? 

Ratu menatapnya dengan mata yang penuh cinta, namun juga kesedihan. Ia meraih tangan Pria dari kejauhan.

110. RATU (dalam mimpi, dengan suara lembut) : Pria… aku harus pergi. Tapi aku akan menunggumu. Jangan khawatir, kita akan bertemu lagi. Di surga, di tempat yang lebih baik. Kita akan bersama lagi. 

Pria menatapnya, air mata mengalir tanpa bisa dihentikan. Ia ingin berlari ke arahnya, tetapi ada jarak yang tak bisa dilewati. Ratu semakin jauh, hingga akhirnya hanya ada bayangan samar di depannya.

111. PRIA (terisak, dengan suara penuh kesedihan): Ratu, aku akan menunggumu. Apa pun yang terjadi, aku akan menunggumu. 

112. RATU (terakhir kali berbisik, senyum penuh pengertian): Terima kasih, Pria. Aku akan selalu ada di dalam hatimu. Kita akan bertemu lagi. Aku janji. 

Dengan perlahan, Ratu menghilang, dan Pria terbangun dengan perasaan yang campur aduk—rasa kehilangan, namun juga kedamaian yang mendalam. Ia tahu bahwa perpisahan itu adalah bagian dari takdir yang harus diterima. Tetapi ia juga tahu bahwa cinta mereka tidak akan pernah benar-benar berakhir.

ADEGAN 8 – PENUTUP

Lokasi: Lobi Hotel Dendam Arwah. Beberapa bulan telah berlalu. Hotel ini bukan lagi tempat yang menyeramkan. Interiornya berubah menjadi lembut dan damai. Warna kayu hangat, cahaya matahari menyusup dari jendela, dan bunga-bunga kecil tergantung di beberapa sudut.

Meja resepsionis kini dijaga oleh PRIA—Arga Yudistira. Ia mengenakan jas gelap sederhana, rambutnya sedikit lebih panjang, wajahnya matang dengan kelembutan baru.

Di hadapannya, sebuah buku tamu terbuka, dengan pena tergeletak di sampingnya. Di pojok meja, terdapat dua potret kecil tanpa bingkai mewah—hanya siluet: satu menggambarkan RATU berdiri di bawah cahaya bulan, satu lagi RESEPSIONIS memegang buku hitam di ruang sunyi.

Seorang TAMU ARWAH muda—seorang perempuan remaja dengan wajah kebingungan dan koper kecil di tangan—melangkah masuk, ragu-ragu.

89. TAMU ARWAH (berbisik, menatap ke sekeliling):Ini… hotel?

90. PRIA(tersenyum hangat):Ya. Tempat bagi mereka yang belum bisa pulang… tapi sudah terlalu lelah untuk terus berjalan.

TAMU menatap dua potret itu. Ia menunjuknya perlahan.

91. TAMU :Mereka siapa?

92. PRIA :(terdiam sejenak, lalu menjawab pelan): Dulu… mereka adalah penjaga hotel ini. Ia—(menunjuk siluet RATU)—adalah Ratu dari Waktu yang Terbelah. Dan dia… pelindung setianya. Mereka menjaga hotel ini sebelum aku…Tapi mereka tidak tinggal selamanya.

93. TAMU : Mereka… ke mana?

94. PRIA (tersenyum pahit, suaranya menurun): Mereka memilih untuk menjadi abu.Bukan karena kalah…Tapi karena menang dengan cara yang tak pernah diajarkan oleh dendam:dengan memaafkan. Mereka tahu, membalas bisa memberi kelegaan… tapi melepaskan… itulah yang memberi keabadian.

TAMU terdiam. Angin lembut berembus lewat pintu depan yang terbuka sedikit. Buku tamu terbuka. Lilin menyala kecil di dekat potret-potret.

95. PRIA(sembari menatap lilin) : Ketika mereka pergi… tak ada suara jeritan. Hanya cahaya, dan abu yang turun seperti salju paling tenang. Tak ada rasa sedih… hanya rasa pulang.

TAMU perlahan duduk dan mulai menuliskan sesuatu di buku tamu.

96. TAMU : Kalau begitu… aku ingin pulang juga.

PRIA berdiri, menuntunnya ke arah tangga menuju lantai atas. Kamera (atau fokus lampu) mengikuti mereka dari belakang. Langkah mereka pelan dan tenang. Tak ada musik—hanya sunyi yang nyaman.

SUARA NARASI TERAKHIR (suara hati hotel, menyatu dengan langkah PRIA):

Di dunia yang membelah waktu dan rasa,

ada tempat di mana dendam berubah menjadi doa,

dan kehilangan membuka jalan pulang.

Di sinilah tempat itu.

Dulu dijaga oleh mereka yang terluka,

kini diteruskan oleh yang pernah diselamatkan.

Mereka telah menjadi abu…

tapi dari abu itu, tumbuh tempat untuk berharap kembali.

Lampu panggung meredup perlahan. Yang tersisa hanya cahaya pada buku tamu terbuka, potret dua penjaga lama, dan selembar daun kering yang melayang turun dari lantai atas.

TIRAI TURUN.

TAMAT.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *