Karya
Dwi Alverina Prastia
Adegan 1
Panggung tampak gelap. Tidak ada cahaya. Terdengar suara sayu adzan dari kejauhan, lalu hening sesaat. Kemudian, suara trok-trok dari gerobak mie menggema di panggung. Lighting putih ke biru biruan menerangi bagian tengah panggung.
(Suara gerobak mie berjalan – “trok trok trok…”)
Dari sisi kiri panggung, penjual mie mendorong gerobaknya perlahan sambil berseru.
01. Acong: (suara melengking) Mie… mie… mie!!!
02. Liana Xu: Bang, beli! (berdiri sambil melambaikan tangan, lalu berjalan ke arah gerobak)
03. Acong: Berapa, Neng?
04. Liana Xu: Seporsi, Bang. Seperti biasa.
(Liana berdiri di samping gerobak. Raka Wijaya yang sedari duduk dupinggir jalan tampak ragu, tapi akhirnya berjalan mendekat. Mereka hanya berjarak beberapa langkah.)
Raka Wijaya: (Beberapa kali mencuri pandang ke arah Liana)
05. Liana Xu: (Tertunduk malu) hihihi
(Acong menyadari situasi dan menyanyi lirih sambil meracik mie)
06. Acong: Inikah namanya cinta… Inikah cinta… cinta pada jumpa pertama…
07. Acong: (Melihat bergantian ke arah Raka dan Liana) Ayo pada kenalan. Sudah kenal belum? Jangan malu-malu. (Dengan aksen Tionghoa) Ayolah, kalian sudah besar-besar…
08. Raka Wijaya: (Melirik ke arah Liana, ragu, namun ulurkan tangan) Raka… Nama panjangnya Rakaaaa
09. Liana Xu: (Pelan) Liana…
10. Acong: Horel! Hahaha…
(Liana tersenyum malu, berlari membawa mie ke dalam kos. Raka memberi hormat kecil pada Acong.)
11. Raka: Bisa aja lu cong
12. Acong: (Mengelap keringat diwajahnya) Aku tau dong kalau hobi kamu yang bening-bening gituu
13. Raka: Bening lu kira kuah mie kali ah
14. Acong : Bening yang ini beda, dibeli pake duit, kalo itu dibeli pake cinta
15. Raka : (Wajah mengejek) Bacot lu cong
(Raka segera pergi meninggalkan acong, begitupun acong membunyikan mangkok pentungan sembari menjajakan jualannya)
(Lampu berganti kuning)
Adegan 2
(Tata cahaya: Lampu panggung menyinari sudut jalan. Terlihat suasana pagi.)
Raka Wijaya berdiri di seberang jalan, memperhatikan dari kejauhan. Liana berjalan bersama Siska dan Yuni mengenakan baju gereja.
16. Siska: Ayo, Li. Udah telat nih!
17. Liana Xu: Iya, iya! (terburu-buru)
18. Yuni: Itu cowok yang beli mie semalem tuh!
19. Liana Xu: (Berusaha tak menoleh) Ah… masa sih?
20. Raka Wijaya: (Lirih) Gereja… (terdiam) Aku kira dia…
(Tata suara: Denting lonceng gereja terdengar lembut di latar.)
(BLACKOUT)
Adegan 3
(Tata panggung: Halaman kos Liana. Lampu senja jingga menyinari bangku kayu.)
(Suara jangkrik dan sepeda motor jauh)
Raka Wijaya mengetuk pagar kecil.
21. Liana Xu: (Membuka pintu) Mas Raka?
22. Raka Wijaya: Maaf ganggu… cuma mau ngobrol sebentar.
23. Liana Xu: Duduk di luar saja ya… Bapak kos cerewet.
(Mereka duduk. Sunyi)
24. Raka Wijaya: Tadi kulihat kamu… di gereja.
25. Liana Xu: Iya, memang setiap minggu.
26. Raka Wijaya: (Ragu) Aku belum pernah… jatuh hati pada yang berbeda kepercayaan.
27. Liana Xu: (Menatap langit) Mungkin… karena cinta tak pernah minta izin.
(LIGHGTING MENGGELAP)
Adegan 4
(Tata panggung: Ruang interogasi. Dinding kusam, lampu putih tajam menyinari meja.)
(Dua petugas duduk, Raka di seberang mereka.)
28. Aparat: Nama Raka Wijaya. Gur honorer?
29. Raka Wijaya: Ya, betul.
30. Aparat: Dekat dengan perempuan Tionghoa?
31. Raka Wijaya: Kami hanya teman.
32. Aparat: Atau… kamu sedang berkhianat?
33. Raka Wijaya: Saya hanya jatuh cinta.
34. Aparat: Cinta bisa jadi pengkhianatan kalau lupa tanahmu.
35. Raka Wijaya: (Tegas) Kalau tanah ini hanya untuk kebencian… mungkin cinta memang tak punya tanah.
(BLACKOUT)
Adegan 5
(Tata panggung: Panggung pertunjukan kecil. Wayang Potehi sedang dimainkan. Cahaya merah kebiruan.)
(Raka duduk sendirian. Musik kecapi mengalun.)
Wayang Perempuan di panggung tampak menyerupai Liana.
36. Liana Xu (suara dari balik layar): Mas Raka… Kau masih di sana?
37. Raka Wijaya: Kamu…?
38. Liana Xu: Cinta kita… tak bisa bersama. Tapi tak akan mati.
39. Raka Wijaya: Hatiku… tak pernah menolakmu.
40. Liana Xu: Kita hidup dalam lakon yang tak bisa kita tulis sendiri…
(Pertunjukan berhenti. Musik kecapi mengalun hening.)
41. Raka Wijaya: (Berdiri perlahan)
Cinta yang pupus… adalah cinta yang tak sempat tumbuh.
Tapi benihnya… tetap tinggal di hati.
(LIGHTING BLACKOUT.)

Tinggalkan Balasan