Karya
Rara Ajeng Annisa Jannah
(Sorot lampu yang menyorot dengan warna oranye keunguan, di panggung yang luas terdapat satu kandang yang besar, di mana ada seekor kuda terikat rantai di pergelangan kakinya. Samar – samar suara dari hembusan napas kuda lain, bersamaan suara rantai yang memberenggu kaki kuda yang tampak terlihat akan rasa kecemasan, kebingungan dan kekecewaan).
“Apakah kau pernah tahu rasanya dilahirkan untuk berlari, namun di setiap langkahmu itu dicuri? Aku pernah tahu rasanya arti angin yang menggoda surai leherku. Aku tahu rasanya tanah menyambut kaki – kaki liar ini. Aku tau rasanya arti bahagia dengan kebebasan tanpa aksesoris apapun dan pengikat apapun. Bermain tanpa ada rasanya ketakutan dan bisa menikmati keindahan setiap langkah.”
“Tapi, sekarang…”
“Sekarang aku hanya dapatt diam. Dibelenggu.”
(Lampu mulai meredup dengan membiru dan berfokus pada aktor dengan bunyi dari rantaian yang terlilit dengan perlahan intro dari piano melaun).
Lirik:
Dulu.. aku mengenal tanah ini bagai peluk
Aku mengenal rumput nan segar menyentuh
Memberiku energi selalu
Angin yang menjadi teman pertamaku di sini
Berlari berteriak bercanda, terus
Hingga menikmati hambusan yang hidup
sejauh impian ini membawaku
Dengan gelak tawa yang
selalu ku nikmati
Selalu ku rasa
Hingga bahagiaku terpenuhi
Namun, aku ingat bahwa sekarang aku bukanlah kuda yang bisa berlari dengan bebas, aku bukan siapa – siapa, karna hidupku milik mereka.
Aku pikir semuanya akan tetap seperti langit yang membentang bebas dengan angin yang menyejukan, seperti laut yang menghampar luas dengan berliak liuk di terumbu karang, dan selama kau cukup berlari, aku akan tetap bebas. Tapi, Suara – suara itu mulai datang. Suara manusia, ya suara mereka.
“Hoii hentikan itu. Kau bukan lagi kuda liar. Kau milik kami sekarang.”
“Tak ada lagi padang yang luas untukmu.”
“Kau harus nurut kepada kami, kami yang memeliharamu.”
“Berhenti memberontak!”
“Diam, kau diciptakan untuk menaati semua aturan kami. ”
Lirik:
Tersadar aku tidak ingat kapan
Tanpa suara tidak ku rasakan
Rantai di kaki sudah melingkar
Membelenggu, ia mengurungku
Apa mungkin ku terlalu terlena
Mungkin saat ku percaya dunia
Atau mungkin ku merasa cukup
hingga, lupa untuk berjaga?
Di sini aku merasakan nafas berat yang penuh terasan di tanah yang berlumpur dan berbatuan, suara dentingan besi dan teriakan terus menggema dari mulut manusia manusia itu, sehingga menjadi alarm yang selalu menjengkelkan di setiap saat ketika mereka datang.
“Angkat kakumu, paksakan, kau tau kalo kau harus selalu siap. Kau itu kendaraan kami yang harus bisa mengangkat apapun.”
“Lari, binatang! Kau seperti tidak berguna.”
“Bangun! Mengangkat beban saja kau kesusahan, diajak berlomba pun cambuk ini tidak membuatmu cepat! Cepat atau kau tidur di lumpur selamanya!”
Setiap hari aku merasakan hidup ini seperti neraka yang selalu ada penyiksaan berulang, tidak ada yang dapat aku rasakan selain tekanan dari fisik maupun teriakan untuk mengikis psikologis yang menjadi hobi mereka dalam memenuhi kehidupanku seharian, namun
Tuanku bilang ini untuk kebaikanku, untuk membuatku bernilai. Untuk membentukku agar makin lebih pantas dan dihargai orang. Tapi mengapa, mengapa yang kurasakan justru sempit? Mengapa aku selalu diperintah dan dipagari tanpa dikeluarkan ke lapangan luas?
Aku mencoba untuk memberontak. Sekali. Dua kali. Bahkan berkali kali Tapi itu semakin menyakitiku, mengiris kulitku, hingga aku menyerah, berdiri diam, walaupun aku mau berteriak kalo mereka jahat mereka tidak punya hati.
Namun, aku tidak dapat bersuara untuk meminta keadilan, bahkan langkah kakiku tidak dapat bergerak dengan leluasa karena rantai sialan ini yang menyiksaku. Tapi ada kuda tua yang melihatku, dengan tatapan yang seduh dengan bijak dia berkata
“Anak muda, jangan terlalu berharap untum keluar, rasa itu akan menghanyutkanmu akan membuatmu makin terluka. Bertahanlah, taati saja meski kamu hanya ditempatkan berdiri di kandang ini hingga berhari hari”
“Walaupun kau tidak nyaman, inilah tempatmu sekarang”
“Kita harus taat, Kau tahu itu. Kalau tidak… kita akan dibuang.”
Taat? Apakah taat itu berarti mengkhianati darah sendiri? Apakah untuk bernafas sendiri terasa curang? Apa gunanya kaki kuat kalau untuk melangkahpun tidak dapat bebas sehingga berbelok pun harus minta izin? Aku bertanya, apakah aku diciptakan hanya untuk menarik beban? Apakah aku lahir hanya untuk menjadi pemanggul beban dalam hitunganya?
Mengapa aku diberi dada yang berdegup, kalau aku harus diam bahkan untuk bermimpi? Ketika Malam hari, disaat penjaga menghilang dan angin kembali berbisik, gumaman kuda tua itu terdengar lagi olehku:
“Kami semua pernah mencoba, nak. Kami semua pernah bermimpi. Tapi rantai ini bukan sekadar besi, apa yang dapat kita lakukan? Hidup kita sudah tidak bebas, ini tumbuh di kepala kita, bahkan di hati kita”
Diam dan kosong, saat aku mendengarkan ini. Entah kenapa, menjadi sesak dadaku mendengar suara itu. Apakah aku terhanyut akan rasa ini? Rasa kehampaan
“Kau istimewa,” mereka berkata lagi, “Kau kuat. Kau akan membawa kami menuju kemenangan, bukan? Haha kau hanya diam dan berusahala untuk menang”
Lirik:
Mereka bilang aku istimewa
Karena aku kuat, karna aku gagah
Tapi tak ada yang tanya
Apa aku bahagia?
Aku lari, aku menang
Tapi tak ada yang tahu,
Aku terluka. Tapi
Apa aku bahagia?
Istimewa? Mereka bilang istimewa dari sisi siapa? Hidup ini menjadi kerangkeng berjalan, aku hanya kuat karena rasa terpaksa, air mata, rasa gundah, dan kekesalahan harus aku tahan tanpa pilihan lain. Apanya yang kuat kalau ini memang tidak ada pilihan lain.
Istimewa? Dari sisi siapa? Dari kaca mata siapa? Dari sudut pandang siapa yang mengukur niai seorang makhluk hanya dari seberapa banyak beban yang ia pikul, seberapa banyak rasa yang dicambuk, seberapa banyak rasa luka dari goresan tiap rantai yang bergesak dengan kaki, tapal kuda yang mengganggu jalan, sbeerapa cepat ia berlari untuk tujuan yang bukan miliknya?
Hidup ini, rasa ini, seperti kerangkeng yang terus berjalan. Kehidupan ini seperti penjara yang tak terlihat, tetapi mencengkram setiap langkah. Aku hidup bukan karena maum tapi terasa mencengkeram setiap langkahku. Aku tidak berjalan karena mau, tapi karena harus. Karena ini semua harus dilakukan, karena akan ada cambuk yang akan bicara lebih keras dari kata. Aku bukan pemenang, aku bukan pejuang, aku Cuma kuda yang terus disuruh bertahan, terus dipaksa berdiri, meski aku ingin jatuh.
Pasti, ya pasti aku yakin masih ada padang hijau yang bisa aku jelajahi. Masih ada angin yang bersiul memanggil namaku.
Tapi, setiap kali aku mendongak, kenapa mereka menanamkan ketakutan baru
“Di luar sana hanya ada kehampaan, kematian, dan kesia-siaan.”
“Hidup? Itu hanyala labirin yang perlu dijalani tanpa tujuan. Kita berjalan, berlari, tapi setiap langkah membawa kita lebih dekat pada kehampaan itu.”
“Rasa penasaranmu dan keyakinan itu kau simpan saja, dada yang masih berdegup setiap saat tidak memberikanmu harapan yang lebih karna ini akan menjadi faktamorgana.”
“Kau tidak akan pernah keluar, nak. Rantai itu tak pernah putus.”
Tanpa ku sadar, sedikit menjadi lebih terasa aku mulai percaya, aku mulai percaya hingga mungkin memang benar. Ketakutan itu mengendap di nadi yang menyusup di sela tulang. Aku mempercayai bahwa aku akan mati konyol di luar sana tanpa rantai ini.
Akan tetapi malam-malam panjang membisikkan ku sesuatu yang lain bahwa dalam kebebasan, meski terjadi singkat dan banyaknya resiko yang akan terjadi, lebih menguntungkan diri dari pada kehidupan yang hanya menunggu mati. Karena kebahagiaan yang memberikan warna dalam kehidupan walaupun sesaat. Aku rindu berlari. Aku rindu menjadi lugu. Aku rindu hidup bebas. Hingga Rindu merasa tak penting… karena rantai yang membelenggu kaki
Mungkin, aku takkan pernah merasakan benar – benar lepas dengan kehidupan ini. Mungkin aku bisa berlari tapi apakah bisa lebih jauh? Aku sudah menghentakan kaki lebih keras, aku sudah menembus pagar impian, tapi sia sia
Akan aku coba, akan aku beranikan hingga suatu hari akan benar-benar bebas. Aku bersumpah, saat hari itu tiba aku tak akan kembali lagi. Karena perasaan yang telah lama terkunci kini mulai menguat dengan bisikan tekad untuk melawan rasa takut yang telah tertanam keraguan dalam jiwaku. Ada pilihan, selalu ada pilihan. Mungkin dunia di luar sana memang penuh dengan kehampaan, tetapi itu bukan alasan untuk aku berhenti berusaha. Tidak ada yang bisa membatasi aku kecuali diriku sendiri.
Semuanya harus hancur, hingga kehancuran itu membuat dunia ini tergeletak diselimuti kegelapatan dalam kesepian. Semuanya harus mati, agar mereka tau apa dampak yang telah mereka perbuat. Akan tetapi, rantai yang terasa di kaki ini masih ada bahkan makin lebih erat mengikat, yang menyadariku bahwa ini tidak membuatku bebas karena semua itu tidak menghapus kekosongan yang aku rasakan
Sepi, sekarang tidak ada lagi kebisingan yang melengkapi angin di sekitarku. Semua habis, dan hanya tersisa diriku yang terus berjuang menarik rantai tua ini walaupun meninggalkan robek besar di kakiku.
Lirik:
Walau ku rasa
Gundah
Walau ku rasa
Hampa
Yang mempengaruhi pikiran
Yang menghancurkan kebebasan
Tapi aku tak gendar untuk menyerah
Akan ku buktikan semuanya
Akan ku buktikan semuanya
Karna hidup ada pilihan, semua ada pilihan

Tinggalkan Balasan