Karya
Farel Edyan Putri
DITENGAH PANGGUNG, LAMPU MENYOROT SEORANG PEMUDA YANG MENARI DENGAN TOMBAK BAMBU DIATAS PERAHU DENGAN BOKS KAYU DIDEPAN PERAHU TERSEBUT. IA MENARI SEIRAMA DENGAN DERU OMBAK DAN RAPALAN DOA YANG LANTANG SEBAGAI PENGIRING TARIANNYA. IA KELUA DARI PERAHUNNYA DAN MENGELILINGI PERAHU TERSEBUT DENGAN TARIANNYA TANPA PUTUS MERAPALKAN DOA NYA PERLAHAN LAMPU MENERANGI SELURUH PANGGUNG
“Berapa lama lagi aku harus bertahan? Hanya aku sendiri berteman sepi yang diwarnai laraku diatas daratan dan pasir halus terkikis deru ombak yang tak lama lagi menyatu dengan laut ini. Aku bahkan tak tau lagi bagaimana rasanya tertidur dengan badan yang berbaring sempurna”
PEMUDA ITU DIAM SEJENAK DAN MENUNDUK LALU MENGAMBIL BOKS KAYU SEBAGAI TUMPUAN KAKINYA. IA MELOTOT LURUS KEATAS DENGAN MENGAYUNKAN TOMBAK SECARA ACAK SEAKAN INGIN MEROBEK LANGIT DAN LAUT
“Dewa laut, dengarlah!!! Aku Wai, anak yang tersisa dari pesisir itu. Akulah anak dari rahimmu meminta jawaban, Kemana kau membawa rumahku? Apa yang telah kauperbuat? Mengapa kau menakdirkan ini hanya kepadaku? Dimana lagi aku harus mencari jawaban kalau mulut saja hanya kau sisakan satu?”
TAMPAK TEPAT DI DEPAN WAI, CAKRAWALA ANTARA LANGIT DAN LAUT MULAI MEMUNCULKAN CAHAYA MATAHARI PERTANDA HARI TELAH BERGANTI
(Berjalan mendekati perahu) “Genap sudah garis kesepuluh kuukir untuk mengingat-ngingat berapa hari kulalui ditanah kosong ini. (Tersadar, lalu menggelengkan kepala) Bukan, bukan. Ini adalah rumahku (tertawa geli). Dulu, pagi-pagi begini aku sudah berlari ditepi pantai, naik perahu bersama kakekku bersiap untuk menyatu dengan lautan karena setiap pagi, anak-anak disini sudah diajarkan berenang dilaut lepas. “Kita semua adalah kesatria laut, wai. Semua yang ada didalamnya sudah menjadi tugas kita untuk melindunginya. Dan tidak pernah dalam seharipun kita meninggalkan tempat purba ini. Dengan menyelam, kau akan tahu bagaimana laut ini meyayangimu” Aku yang terlalu muda pada saat itu hanya terdiam, tidak mengerti apa yang diucapkan oleh kakekku.
Karena menungguku terlalu lama untuk mengambil langkah berani, kakekku terjun langsung ke laut dengan tombaknya. (Wajah yang berbinar) Aku melihatnya dengan tatapan kagum, tanpa aba-aba, tubuh ini spontan terpanggil ke laut, melompat dari sampan. Air menyambutku seakan mengenaliku. Perlahan aku tersadar ucapan kakekkku, laut ini menyayangiku. Tidak heran kakekku berujar akulah yang menjadi salah seorang pelindung untuknya kelak ku dewasa.
LAMPU KUNING YANG SANGAT TERANG, MENANDAKAN AKTIVITAS DI PULAU TERSEBUT BERJALAN, WAI MENGANGKAT BOS KAYU KEDEPANNYA, SEAKAN AKAN MENJUAL IKAN HASIL TANGKAPANNYA BERSAMA KAKEKNYA
“Pulau kami hidup dari laut. Ikan, rumput laut, Mutiara dan cangkang bak kilauan emas membuat kami hidup. Kami jaga laut, laut jaga kami. Setiap alirnya adalah berkah. Kami hdup tahu cara dan tahu batas. Laut buan sekedar bentang biru, ia adalah ibu kami.”
WAI MENELUNGKUPKAN PERAHUNYA DAN SEOLAH MENJEMUR IKAN DIATAS PERAHU ITU. BOKS KAYU ITU IA BALIKKAN, MENGAMBIL IKAN DIDALAMNYA DAN MENJEMURNYA DI ATAS PERAHU
“Setiap sabtu yang cerah, aku membantu ibu-ibu yang tidak jauh dari dermaga menjemur ikan, setelah aku selesai memburu tangkapan. Bau amis menempel di seluruh tubuh hingga ke ingatanku. Tawa kami pecah diantara anyaman jaring ikan. Perahu-perahu kecil menari diatas ombak. Kami percaya, ketika kami menjaga laut, laut juga akan memabsuhi kami dengan kebaikannya. Tidak ada sorot mata ada yang berkabut serakah dan tidak apa yang mengambil lebih dari porsi kami masing-masing, itulah hukum yang kami tegakkan”
LAMPU BERWARNA PUTIH KEABUAN, DEBU BETERBANGAN DAN KABUT MULAI TAMPAK
“Tatkala segerombolan pencuri datang ke pulau ini dengan mengenakan setelan rapih, meyakinkan kami dengan segala janji manis itu, dengan sorot mata yang haus itu meyakinkan kami, (wai tertawa dengan tatapan seram) “kami disini cuma mau bawa kemajuan”. Kami awalnya gusar, namun kepala suku tolol itu juga hadir diantara kami, ikut buka suara dengan piawainya bermain kata meyakinkan kami yang bodoh dan mudah terlena dengan petuahnya, tak luput juga dengan uang tutup mulut yang mereka berikan secara cuma-cuma. Manusia mana yang tidak tergiur dengan perlakuan itu? Sejak operasi tambang itu dimulai yang mereka bawa dibalik kata-kata itu ternyata kebusukan yang mengakar diantara kami. Lubangan besar dimana-mana, lautan kami keruh dan kotor. Ekspansi tambang merengut lapisan kehidupan kami. Hak asasi kami dikangkangi, roda ekonomi perlahan mengeluarkan bunyi karatnya, tak ayal akan rusak dan berhenti berputar dalam waktu dekat ini (bersembunyi di balik perahu) rasa takut dan bingung menyelimuti sekujur tubuhku, tapi kabut tebal ini tak bisa kuabaikan saja, Aku harus melakukan sesuatu untuk membuatnya raib.”
(Terduduk diatas perahu) “Aku duduk ditepi dermaga setelah seharian penuh menombak ikan dibawah laut yang kian keruh. Tidak perlu waktu yang lama, mataku terpejam kelelahan. Sayup-sayup kudengar dalam tidurku, Laut bukan sekedar bentang biru. Ia adalah tempat asal dan kembali. Sebelum lahir dan setelah kematian. Awal dan akhir. Ia hadir didalam kita dalam tenang ataupun badai. Suara itu yang berasal entah darimana pada hari itu menghantui pikiranku seakan berusaha menyadariku untuk melakukan suatu hal yang besar. Tanda tanya ini tidak berhenti sampai disitu. Malam berikutnya aku bermimpi laut ini semula berwarna biru dan datangla badai besar beriringan dengan gelombang besar tanpa aba-aba menyapu habis tempat tinggal kami (Penduduk pulau kalang kabut ketakutan dan meminta tolong)
“Malam itu kutemukan jawaban dari kepingan mimpi. Perlahan kurasakan lautan menunjukkan yang tak amarahnya, sumber daya dari laut kian sulit kami dapat. Kesusahan itu semakin keruh saat satu persatu dari kami mulai mengenal cara menangkap ikan dengan jumlah banyak dengan dalih bertahan hidup. Kami rakus, kami tamak. Bapak ku juga tidak ada bedanya dengan mereka. Meski kutahu aku sendiri, aku harus mencari cara supaya mimpiku ini kelak terjadi jika mereka tidak kian sadar. Jangan tanyakan ketua suku kami, ia sudah menjadi tukang jilat dari pencuri itu.”
(mengambil tombak dan mendongakkannya keatas langit) “Dengar! (mengetuk tombak ke perahu) Aku bukan pahlawan. Aku cuma nelayan yang gigih. Tapi hari ini, gigi kita harus sama-sama mengertak! Mereka bilang “ini kemajuan”… tapi kemajuan mana yang rasanya seperti ketakutan? Kenapa “investasi” harus dibayar dengan tanah kita? (Berhenti mendadak, menatap mata penonton satu per satu) Ingatlah siapa kita ini, seorang kesatria laut! Kesatria penganggur! Mereka rampas laut kita, lalu kasih “bantuan”, beberapa uang untuk tiap-tiap kita. Itu bukan bantuan- itu namanya uang tutup mulut! Aku tak butuh kalian semua ikut berperang… Cukup berhenti jadi penonton! Tapi akan lebih baik jika tombak-tombak ini bergerak bersama! Ini pilihan sederhana: Terus mengemis sisa-sisa kehidupan… Atau lagi tegak seperti leluhur kita dahulu!”
LAMPU REDUP BERUBAH MENJADI WARNA BIRU TUA, DIIRINGI SUARA OMBAK DAN ANGIN
(Terduduk dengan tombak yang terjatuh) “Bak suara di padang sunyi, gema pun enggan kembali. Suaraku pecah, bahkan sebelum sampai ke telinga mereka. Para penduduk- telah dibalut tuli, tidak mendengar lagi suara batin mereka, tidak mengenal lagi siapa diri mereka. Berpijak diatas pasir leluhur, namun tak lagi ingat arah ombak pertama. Suara dalam diriku menanyikan nada yang jauh berbeda dengan yang lain. Apakah perbuatanku salah? Apakah roh nenek moyang juga telah pergi dari laut ini? Atau mereka termangu… karena tahu kami lupa jalan pulang?”
WAI KEMBALI BERDIRI DENGAN TOMBAKNYA. SPOTLIGHT PANGGUNG BERFOKUS PADA WAI.
“Dewa laut! Sadarkanlah mereka yang menutup hati nurani, yang tersesat diantara kabut. Agar mereka tahu, dirimu yang diam bisa menenggelamkan kapal-kapal yang sombong. Ambil saja semuanya karena aku lelah berteriak pada duniaku yang pura-pura tidur.”
LAMPU BIRU TUA TERANG LALU REDUP, SPOTLIGHT BERGERAK KE SETIAP SISI PANGGUNG. BADAI KIAN GANAS DAN PETIR MULAI BERGEMURUH MEMBELAH LAGIT
“Air! Air naik! Semua, lari! Bangun! Ini bukan mimpi! Bukan mimpi! (meloton dan menunjuk ke sisi panggung, suara gemuruh makin besar) Pak, pak! Bawa anakmu pak! Ibuk! Kucing ibu sudah tenggelam, Lari bu! Lari, lari kearah atas semua! Aku selamatkan yang disana. Hei, pegang tanganku! Cepat! Tapi air terlalu cepat, berlomba kecepatan dengan kilat. Ombak datang bak raksasa yang menginjak-injak pulau kami. Aku berlari kearah bayi yang terbawa arus, namun kakiku ditarik lumpur. Aku turut dibawa arus, perlahan laut membawaku dalam gelapnya. Sekujur tubuhku merasa dingin dan beku, juga mataku yang ikut terpejam, dan sadarku hilang.”
LAMPU PERLAHAN PADAM. SUARA OMBAK TINGGAL RIAK SAMAR. HENING.
“Hhh… Dimana…Apa ini? Perahu? (Duduk dan melihat sekitar) Laut? Kenapa aku disini? (memegangi sisi perahu) tidak… ini bukan mimpi, tadi ada tsunami! Tenang wai, tenang… Kau masih bernafas. Pulang… ya, benar aku harus cari jalan pulang. (Melihat keatas langit) Bintang tahu dimana rumahku. Tolong, tuntun aku kerumah. Meski tidak ada lagi keluargaku yang tersisa, setidaknya aku tahu kemana aku harus pulang. (Sambil mendayung perahu nya)
(Dengan tatapan kosong) Aku pulang, tapi pulauku sudah tenggelam. Sedikitpun tidak ada suara maanusia selain aku. Semuanya hilang dalam satu malam. Aku tidak lagi melawan. Mungkin inilah jawaban atas apa yang kuminta padamu dihari itu, ataukah mungkin inilah caramu berbicara lewat gelombang dan arus yang tidak mengenal belas kasihan. Mungkin laut hanya ingin kami mengerti bahwa ia bukan milik siapapun.
SPOTLIGHT BERFOKUS PADA WAI YANG MENARI DENNGAN TOMBAKNYA
“Dewa laut… tobak terakhir kupersembahkan dari kesatriamu dengan ziarah penuh karat. Beribu maaf kuucapkan atas segala yang kami perbuat. Kami tersesat dan tidak berusaha untuk mencari jalan yang benar. Kau memberi dan kau ambil kembali. Kau hadir dalam raga ini dalam tenang ataupun badai. Sebelum kami lahir dan setelah kematian kami. Ambillah jiwaku. Seperti namaku yang berarti air, kuingin kembali padamu, masuk kedalam awalku.”
WAI MENUSUK DIRINYA SENDIRI DENGAN TOBAKNYA, IA TUMBANG DAN OMBAK PERLAHAN MENYAPU DAN MENENGGELAMKANNYA.
TAMAT

Tinggalkan Balasan