Karya
Dwi Alverina Prastia
Di dunia yang menghakimi sebelum memahami, diisi manusia yang mengaku sujud tapi tak pernah benar-benar tunduk, kebenaran sebuah keyakinan bukan mana yang paling antusias, bukan juga yang diyakini mayoritas, tapi hati yang yakin bahwa Tuhan ada pada dirinya
Surat Ar-Rum ayat 32 “Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada mereka.”
Prolog
Panggung gelap total. Tiba-tiba suara ramai pemujaan terdengar
GEMA SUARA LAKI-LAKI (VO):
“ińak̕ hoṛmo ińak̕ ạn ińak̕ atma ińak̕ tạpạ amak jibon amak ghar…”
(Dari bahasa santali yang berarti jasmaniku syariatku, rohaniku tirakatku, nyawaku rumahku)
Lampu merah menyala. Pemuda tanpa atasan bercelana pendek mengitari batu besar sambil berzikir:
RUJAPA (lirih): “lep… lep… alep… alep… lep… alep… lep…” (pujian pengagungan)
Lampu mati total.
Adegan 1
Lampu kuning netral menyinari panggung. Rujapa duduk di atas batu dengan botol miras.
RUJAPA: “Hey warga Kampung Pandan Irang… Masih ingat kalian siapa aku?Aku Rujapa… Jawara muda… pewaris darah pemberontak… anak dari lelaki yang kalian benci setengah mati. Tapi jangan kira aku tak punya agama! 18 tahun hidup di bawah atap rumbia dan kalimat-kalimat syahdu dari kitab. Ku lahap bait demi baitnya… sampai tak tahu mana yang suci, mana yang hasil revisi.”
Ia duduk bersila, menjadikan botol miras sebagai mikrofon. Musik instrumental arab mengalun ringan.)
RUJAPA (meniru gaya penceramah): “Ya murid muridku, Imam Syafi’i pernah mengatakan, Barangsiapa yang menginginkan dunia, maka hendaknya dengan ilmu. Dan barangsiapa yang menginginkan akhirat, maka hendaknya dengan ilmu. Dan barangsiapa yang menginginkan keduanya, maka hendaknya dengan ilmu.
Karena dengan ilmu jalani hidup akan terarah, segala urusan akan mudah, masa depan akan cerah, wibawa pun akan bertambah”.
Rujapa : “Begitu kata salah-satu guruku yang mengaku otaknya dipenuhi akan ilmu, tapi juga menjual doa dengan tarif tertentu…
Sudah-sudah… jangan lagi kita bahas, ayahku pernah berkata, bahwanya lihatlah apa yang disampaikan bukan siapa yang menyampaikan.
Musik sedih perlahan mengalun
Rujapa ” ohya Ayah… Lelaki paruhbaya yang mendidikku menjadi jawara, sosok bijaksana yang mengajari tentang luasnya alam semesta. Karna dia aku menjadi hebat dan karna dia pula aku menjadi pemuda yang hingga kini dipandang hina…
Ayahku pergi meninggalkan aku seorang diri, semenjak ibu mati ia menikah dengan santri putri yang katanya cinta sejati, meninggalkan nama buruk hingga sampai keketurunan yang kesekian, kata orang-orang ia adalah penghianat cacat, cacat ilmu dan cacat logika. Kata orang-orang ia penjahat agama… penyebar ajaran sesar.. .ia mengubah isi kitab, ia mengajarkan ajaran nabi palsu, ia tidak menghormati imam kami yang sudah mengampuni dosa-dosa kami, ia tidak mengikuti cara ibadah kami, ia menentang semua ajaran leluhur kami, dan dia adalah penghianat besar yang bertahun tahun dibenci karena menyebarkan agama kesesatan”
Ia menangis dan kembali marah membawa senjata tajam mengarahkan pada penonton
Rujapa “Karena dia… Aku hidup dalam ketakutan, terus dihina sebagai seorang anak perusak agama, anak sesat, anak kutukan, dan segala macam kehinaan dilontarkan. Apa aku dilahirkan hanya untuk menanggung dosa yang bukan aku pelakunya?”
Adegan 2
Rujapa : “Hingga pada suatu hari, seorang lelaki tua paruh baya dengan pakaian yang lusuh menghampiriku, badannya lesuh lunglai, nafasnya tersengal-sengal.
Kasim (Rujapa) : “Nak.. kau sudah begitu besar, aku kasim… Ayahmu, nak pergilah jauh dari desa ini, nasib kaum nya tidak akan lama lagi, mereka berada pada kesesatan, selama ini kau di doktrin yang hal menyimpang anakku, pergilah dan jangan pernah kembali… “
Belum sempat kasim menyudahi kalimatnya.. terdengar suara gemuruh warga, kasim segera pergi lari menjauh dari tempat itu, rujapa masih tak mengerti apa yang dikatakan kasim, mata rujapa masih dipenuhi akan dendam, namun kepalanya berkecamuk kebingungan. Hingga lamunannya buyar saat warga mulai dekat menghampirinya
Warga “Hey Kasimm, dimana kamu… Keluarlah kasim… Kami akan bunuh kamu… Pengecut kau kasim… Penjahat agama tak pantas ada di desa…”
Perlahan rujapa mengingat kenangan pahit yang ia derita karna nama buruk ayahnya, matanya melotot penuh kesal dan amarah, ia berdiri diatas batu
Rujapa “Bapak ibu saudara sekalian, saya memang anak dari kasim, tapi saya tak sama dengannya, barusan kami bertemu dan ia takkan lari jauh dari sini, ia kearah hilir mendekati surau, ayo kita tangkap bapak ibu”
Begitulah rujapa memberi tahu arah pergi ayahnya, ia turun dari batu membawa obor mengelilingi panggung sembari menjatuhkan banyak properti
Musik tegang semakin nyaring mengalahkan suara apapun
Hingga pada akhirnya kasim ditemukan dalam gudang belakang surau yang selama ini menjadi persembunyian hilangnya kasim. Pakaian, serta alat alat rumah tangga tersedia disana. Disanalah kasim tinggal dengan beberapa pengikutnya, ada yang menyatu dengan warga tanpa ketahuan, ada yang diam diam dan menetap pada gudang itu yang diisi sekat sekat setiap ruangannya.
Kasim diseret keluar (menyeretkan badan ke lantai) : “Demi Allah aku tidak bersalah”
Kasim dibawa ke tepi panggung sebuah properti multifungsi yang bisa dijadikan tempat pancung, kepala palsu diselipkan pada lubang, ketika tali dilepas tajamnya pisau membuat kepala palsu tersebut jatuh yang menyerupai kepala kasim
Musik sedih bermain, seluruh lighting mati kecuali tempat rujapa berdiri.
Adegan 3
Rujapa mundur, melihat ayahnya terbunuh didepan matanya, air mata tak terbendung lagi, sebuah penyesalan kini menyelimuti rujapa, ia menangis terduduk.
Rujapa mengusap air matanya, ia kembali mengambil botol miras dan duduk bersandar pada batu.
Rujapa ” Yahh jika ada kata yang melebihi dari jahatnya kata durhaka, aku lebih pentas menyandangnya. Aku yang bercita cita menegakkan agamanya tapi ternyata berada di jalan yang salah. Yang bermimpi masuk surga dengan kapal feri tapi tenggelam sebelum sampai ke tepi. Sudah sudah… Aku tidak mau menjadi gila karena terlalu dalam memikirkan alam semesta. Aku hanya ingin duduk bersantai menikmati miras hingga menjadi tua bangka. Lalu menangis di samping kuburan ayah meski telah ku sandang gelar durhaka. Semoga sebelum nyawaku dicabut, aku masih diberikan kesempatan untuk bersujud.”
Rujapa yang sedari tadi mabuk berat langsung jatuh pingsan, ia tersungkur disamping batu…
Lampu mati total
– SELESAI –

Tinggalkan Balasan