Karya
Keisya Putri Sagita
Dalam sebuah kehidupan kita akan selalu bersanding dengan makhluk sosial lainnya. ada manusia yang berada diatas dan juga yang dibawah. Si miskin dan si kaya. Si pintar dan si bodoh. Si cantik dan si biasa saja. Perbedaan ini yang terkadang membuat sebuah gap dalam kehidupan sosial. Kehadiran gap inilah yang membuat banyak rasa sakit sehingga menimbulkan bibit-bibit kerusakan moral dalam kehidupan manusia.
BABAK 1
ADEGAN 1
(KEADAAN PANGGUNG YANG GELAP MUNCUL SUARA DETAK JANTUNG YANG BERDEBAR SANGAT KERAS HINGGA AKHIRNYA DETAK ITU PERLAHAN BERHENTI KEMUDIAN LAMPU HIDUP, MEMPERLIHATKAN RUANGAN RESEPSIONIS YANG BERTULISKAN “RESEPSIONIS REINKARNASI”
001. MALAIKAT 1 : “Antrian ke 1339, silakan masuk kedalam ruangan”
SESEORANG DENGAN KEADAAN BERLUMUR DARAH MASUK KEDALAM RUANGAN RESEPSIONIS REINKARNASI. ADA SEBUAH MEJA DAN KURSI SERTA SEBUAH GERBANG BERTULISKAN “REINKARNASI? DISINI”
002. MALAIKAT 2: “Kenapa kau datang kemari! Kau tahu kan tempat apa ini?!”
003. SI MISKIN: (Menganggukan kepala dengan semangat)
004. MALAIKAT 2: “Kau sudah permah diberi kesempatan untuk hidup satu kali. Apa kau yakin dengan pilihan ini. Kau sudah tahu bagaimana payahnya untuk hidup di dunia yang penuh kekacauan.”
005. SI MISKIN: “Aku sangat tahu tentang hal itu. Aku ingin mencobanya lagi.”
006. MALAIKAT 1: “Akan ada kemungkinan hidupmu akan lebih payah lagi dari sebelumnya.”
007. SI MISKIN: (Berpikir dengan mengangguk-anggukan kepalanya) “Tapi… ada kemungkinan akan lebih baik kan?”
008. MALAIKAT 1 DAN MALAIKAT 2 BERHADAP-HADAPAN.
009. MALAIKAT 1: “Kami tidak bisa menjamin itu. Tapi sebelum kami memutuskan apakah kau layak untuk hidup kembali, maka akan kami ingatkan kembali bagaimana hidupmu sebelumnya.”
010. MALAIKAT 2: “Kau lahir pada tanggal 29 Februari. OH! Bahkan ketika kau menangis meraung-raung tidak ada yang menenangi. Tanpa seorang bapak yang menyambutmu dengan haru, hanya seorang ibu yang memperhatikan dirimu walaupun begitu ibumu juga tidak bisa menyayangi dirimu seperti ibu lain pada umumnya.”
011. MALAIKAT 1 : “Sial, sial, nasibmu sungguh sial di hidup sebelumnya”
SI MISKIN SEKETIKA TERDIAM, HENDAK MEMBALIK BADANNYA TETAPI SESAAT KEMUDIAN IA MENGANGGUK DAN TERSENYUM.
012. SI MISKIN : “Tidak masalah. Aku akan menceritakan dari sudut pandangku bagaimana sebuah kehidupan yang kalian sebut sial, berhasil membuat jiwa ini ingin melewati gerbang itu.”
013. MALAIKAT 2 : “Baik. Kami akan mendengarkan kisahmu”
ADEGAN 2
SI MISKIN MENGINGAT KEMBALI KENANGAN-KENANGAN SELAMA HIDUPNYA YANG KATA MALAIKAT-MALAIKAT TADI SIAL. TAPI MENURUTNYA MASIH DAPAT IA SYUKURI TIAP JALANNYA.
014. SI MISKIN : “Aku lahir dari sosok ibu yang menurutku luar biasa.”
015. MALAIKAT 2 : “Luar berbisa maksudmu.”
016. MALAIKAT 1 : “Bukan, lebih tepatnya luar bikin binasa.”
017. SI MISKIN : “Ibuku tidak sejahat yang kalian kalian kira. Dia adalah sosok ibu yang masih inginkan aku hidup ke dunia.”
018. MALAIKAT 1 : “Apabila standar kebaikan seorang ibu sekedar untuk melahirkan anaknya, maka akan banyak orang yang menyepelekan kewajibannya kepada manusia yang ia lahirkan.”
020. MALAIKAT 2 : “Oh! Penelentaran anak”
021. SI MISKIN : “Ibuku hanya sibuk dengan pekerjaannya”
022. MALAIKAT 2 : “Bekerja atau melayani pria-pria yang berhidung belang yang tidak puas dengan istrinya dirumah.”
023. SI MISKIN : “Tapi.. ibuku masih memperbolehkan aku untuk datang ke sekolah dan menuntut ilmu.”
024. MALAIKAT 1 : “Ia menyuruhmu sekolah hanya untuk meninggikan namanya dilingkungan kalian. Sebuah pembuktian apabila seorang pelacur murahan dapat menyekolahkan anaknya.”
025. SI MISKIN : “Maka tetap bisa dikatakan baik bukan. Aku tidak masalah dengan alasan ibuku menyekolahkanku, yang pasti ibuku ingin aku tetap sekolah.”
026. MALAIKAT 2 : “Bebal sekali jiwa ini. Kau masih ingat bagaimana para warga memperlakukan keluarga kalian.”
027. MALAIKAT 1 : “Kau masih ingat Pak RT kompleks kalian yang selalu membuat susah hidupmu. Kau ingat bagaimana beliau menjilat para petinggi dengan menceritakan bagaimana sedihnya hidup kalian sebagai warganya, tapi bukannya sumbangan itu diberikan malah–.”
MALAIKAT 1 DAN MALAIKAT 2 MEMBUAT GERAKAN SEDANG MEMAKAN.
028. SI MISKIN : “Tapi..”
030. MALAIKAT 2 : “Kau ini sangat bodoh. Pak Rt itu tidak hanya membuat payah hidupmu saja tetapi hidup warga lainnya. Dari perawakannya saja seperti tikus got, moncongnya maju, berkumis panjang, dan menjilat apa yang bukan haknya. Tikus got berpeci. Gayanya saja seperti haji”
031. MALAIKAT 1 : “Ketika aku ingat-ingat lagi, bukankah Pak Rt itu yang menjadi penyebab kematianmu.”
032. MALAIKAT 2 : “BETUL! Aku ingat sekarang bagaimana kamu mati.”
033. SI MISKIN : “Kematianku karena sebuah ketidak sengajaan saja.”
MALAIKAT 2 : “Tidak sengaja tetapi menghabisi satu nyawa.”
034. MALAIKAT 1 : “Selain Pak Rt. Apakah kau ingat bagaimana tetangga-tetanggamu memandang status ibumu, memandang kau sebagai anak dari seorang pelacur. Kau tahu setiap ibumu berjalan ke warung, ibu-ibu lainnya langsung menutup pintu dan jendela mengurung suami dan anak laki-lakinya.”
035. MALAIKAT 2 : “Dikurung seperti burung. Padahal kicauannya tetap terdengar, mengalun-alun menggoda ibumu.”
036. MALAIKAT 1 : “Dan perlakuan mereka kepada kau. Anak-anak yang mereka banggakan dengan senang hati selalu mengganggumu. Kau sedang berbahagia berhasil mengahapal 5 ayat, berharap dapat membuat ibumu turut senang tapi yang kau dapat hanya lemparan batu dari mereka, dan teriakan panjang dari ibumu.”
037. MALAIKAT 2 : “Tuhan sudah tidak ingat kita! Tuhan sudah berlari jauh takut dengan ibumu ini! Yaa! Yaa betul sekali, itu yang ibumu teriakan.”
038. MALAIKAT 1 : “Kau berhasil menghapal 5 ayat malah mendapatkan lemparan batu dan teriakan panjang. Bagaimana bila kau berhasil menghapal satu kitab, apa kira-kira yang akan kau hadapi.”
039. SI MISKIN : “Apakah menurut kalian, anak seorang pelacur tidak layak untuk tetap percaya dengan Tuhan.”
040. MALAIKAT 2 : “Yaa.. tetap layak, sih. Tapi nanti kita konfirmasi lagi kepada boss, apa benar Ia berlari kencang bila didatangi seorang pelacur.”
041. SI MISKIN : “Terima kasih. Jika aku berhasil melewati gerbang itu, maka tidak masalah bagiku untuk tetap lahir menjadi anak pelacur. Aku akan tetap mendekati Tuhan dengan caraku sendiri.”
042. MALAIKAT 1 : “Bukankah akan semakin payah hidupmu.”
043. MALAIKAT 2 : “Dia adalah jiwa yang paling keras kepala yang pernah aku temui. Bahkan antrian ke-999 menyerah ketika diingatkan kembali kehidupannya yang lalu.”
044. SI MISKIN : “Semakin aku diingatkan, semakin aku percaya apabila sebuah kehidupan dapat memberikan pelajaran untuk kedepannya.”
045. MALAIKAT 2 : “AHA! Ada satu tips and trick yang bisa membuatnya menyerah. Cerita kali ini pasti akan membuat dirimu keluar dari ruangan ini dan memilih untuk tenang saja menjadi jiwa-jiwa yang damai.”
046. MALAIKAT 1 : “Ya kau benar. Untukmu jiwa yang miskin, payah hidupnya. Akan aku buka kembali cerita bagaimana kau mati.”
BABAK 2
ADEGAN 1
Settting berubah menjadi di sebuah tempat gang kumuh. Cahaya matahari terik yang menyilaukan mata. Si Miskin dengan peluh sebesar biji kacang sedang melakukan pekerjaannya, mengangkat barang-barang berat di warung, diantarkan kerumah-rumah.
047. SI MISKIN : “Ini, Yem.”
048. IYEM : “Makasih, makasih, Kin. Minum dulu, Kin, minum.”
049. SI MISKIN : “Anak-anakmu bagaimana, Yem.”
050. IYEM : “Bingung aku, Kin. Zara tidak mau makan, sudah aku suapi pisang malah menangis saja kerjanya. Masuk, keluar terus makannya, Kin.”
051. SI MISKIN : “Muntaber bukan?”
052. IYEM : “Benar, Kin.”
053. SI MISKIN : “Astaga, Yem. Anak itu masih setahun, mana bisa dia ngomong mamak aku mau sate. Bawa kerumah sakit, Yem.”
054. IYEM : “Sudah aku bawa ke bidan. Aman lah, anakku ini. Kalau kerumah sakit, nanti siapa yang ngurusnya disana? Dirawat maksudmu? Tidak, tidak, tidak. Aku mau bekerja, Kin. Uang ini dapatnya harian, kalau tidak mencuci dirumah pak RT, nanti dapat uang dari mana aku?”
055. SI MISKIN : “Nanti terlambat, Yem. Dia masih bayi.”
056. IYEM : “Yoo, enak lah kamu bilang doang terlambat-terlambat. Uangnya Kin, uang dari mana. Udalah kamu belum berkeluarga, lanjut sana, hush- hush.”
057. SI MISKIN : “Ya sudah, aku cuma mengingatkan. Jangan sampai terlambat saja.”
058. NUR : “INNALILLAHI YEMM.”
059. IYEM : “Kenapa, Nur. Kenapa, Nur.”
060. NUR : “Michel sejak pulang sekolah menangis meraung-raung bilang sakit perut.”
061. IYEM : “Sakit perut bagaimana?”
062. NUR : “Ya! Sakit perut, Yem. Sekarang dia meringkuk seperti udang kematangan sambil memegang perutnya.”
063. IYEM : “Makan apa emang dia Nur.”
064. NUR : “Ngga ada ku bekali makan, kan dia sudah dikasih makan dari sekolahnya, pemerintah. Makan siang gratis”
065. IYEM : “OHHH IYAA NUR!! Kata kabarnya anak sekolah lain juga sama, pulang sekolah, sakit perut, untung tidak meninggal.”
066. NUR : “BELUM! BELUM SAJA ITU. ADUHH YEM BAGAIMANA INI MICHEL.”
067. IYEM : “Sudah kamu kasih obat belum, nur?”
068. NUR : “Aku kasih paracet.”
069. IYEM : “INNALILLAHI NUR INNALILLAHI.”
ADEGAN 2
070. PAK RT : “Kin, ini upahmu minggu ini.”
071. SI MISKIN : “Alhamdulillah… pak… tapi ini kurang dari biasanya pak?”
072. PAK RT : “Yoo, kan kemaren kamu libur.”
073. SI MISKIN : “Ya gusti pak, kan cuma setengah hari. Ibukku minta diobatin.”
074. PAK RT : “Yoo, kan itu urusan kamu, Kin. Saya tidak ada urusan, kamu pergi, ngga ada yang antar, ngga ada pemasukan.”
075. SI MISKIN : “Tapi ini dipotong 50 ribu pak.”
076. PAK RT : “Setara lah, Kin. Terima saja buat pengobatan ibu mu. Sakit apa emang? Gatal?”
077. SI MISKIN : “Iya, pak. Badannya gatal-gatal semua, sudah dikasih bedak gatal tapi tetap saja, kambuh lagi.”
078. PAK RT : “Saya rasa gatalnya beda itu, Kin.”
080. SI MISKIN : “Maksudnya gimana pak?”
081. PAK RT : “Yoo, kamu pahamlah Kin. Kita sebagai lelaki pasti paham, Kin. Bagian yang gatal dan yang harusnya di garuk.”
082. BU RT : “Gatalnya ibu kamu itu menular kan, Kin.”
083. SI MISKIN : “Tidak, bu.”
084. BU RT : “Alahh, saya liat sendiri itu ada koreng-koreng di kaki-nya waktu kemaren lewat.”
085. SI MISKIN : “Benar bu, tidak menular.”
086. BU RT : “Kamu mana tahu Kin, orang kamu ngga bawa ke dokter. Coba Kin, bawa ke dukun kalau tidak punya uang.”
087. SI MISKIN : “Musyrik bu.”
088. PAK RT : “Tau apa kamu musyrik-musyrik Kin, wong Tuhan saja lari kalau didekatin kamu. Ogah.”
089. BU RT : “Coba Kin, kamu rapi sedikit, yang bersih supaya Tuhan bisa membantu kamu dan ibumu itu. Tapi, sepertinya ya Kin, sepertinya yaa ini lhoo, ngga maksud jahat lhoo yaa, kayaknya ibumu itu harus dimandikan kembang biar hilang gatalnya.”
090. SI MISKIN : “Emang manjur bu?”
091. PAK RT : “Istri saya mah pintar Kin, kamu ikuti saja.”
092. BU RT : “Nah Kin, caranya bukan cuma mandi kembang saja, tetapi juga kasih doa-doa. Kamu buat altar Kin, di sana kamu taruh persembahan ke Tuhan, hadiah gitu. Ini tuh semacam kita minta sesuatu Kin, lahh orang aja jaman sekarang bakal lebih cepat geraknya kalau dikasih sesuatu, apalagi Tuhan lebih senang lagi kalau dikasih sesuatu begitu Kin.”
093. PAK RT : “Tapi ini cuma saran saja Kin, alternatif kalo kamu ngga bisa bawa ibumu ke dokter.”
094. SI MISKIN : “Terima kasihh ya pak, bu. Nanti saya coba buat. Kasihan ibu saya.”
095. BU RT : “Semoga gatalnya cepat sembuh.”
096. PAK RT : “Cari saja yang bisa ngegaruk.”
SI MISKIN MULAI SIBUK MENYIAPKAN BANYAK HAL UNTUK PENGOBATAN ALTERNATIF IBUNYA. IA MULAI MENYIAPKAN ALTAR, BEKERJA KERAS.
intinya nanti si miskin nyiapin sesajen buat altar, 1 kali buah ambil di tetangga, 2 kali nabung beras sampe 2 kilo, 3 kali dia dapet duid (dikasih/ketemu dijalan) ternyata itu duid pak rt. Mati digebukin warga, tuduhan nyebarin penyakit gatal, dan ilmu hitam (sesajen ke tuhan).
ADEGAN 3
SI MISKIN MULAI BERSIAP MENYIAPKAN ALTAR SEDERHANA BERBENTUK SEBUAH MEJA KECIL DIBELAKANG RUMAH. PAGI SIANG MALAM IA MENGUSAHAKAN ALTARNYA AGAR CANTIK, TAPI TETAP SAJA KEKURANGAN BAHAN MEMBUATNYA TAMPAK REYOT.
097. IBU : “Ngapain kau.”
098. SI MISKIN : “Mau berdoa ke Tuhan, bu.”
099. IBU : “Berdoa untuk apa, Tuhan saja sudah lama menginggalkan kita.”
100. SI MISKIN : “Berdoa supaya ibu sehat.”
101. IBU : “Aku nih sehat”
102. SI MISKIN : “Iya, bu.”
103. IBU : “Jangan sampai mengurangi jatah makan kita.”
104. SI MISKIN : “Iyaa, bu.”
105. IBU : “Nanti aku mau uang lagi, beli obat gatal.”
106. SI MISKIN : “Iyaaaaa, bu.”
SI MISKIN MENEBANG POHON PISANG DI KEBUN TETANGGANYA. MENGAMBILNYA KETIKA MALAM TIBA.
107. SI MISKIN : “Bah, pohonnya boleh di tanah sebelah, tapi buahnya kan sudah masuk tanah kami.”
SI MISKIN MENGAMBIL BUAH PISANG DAN MENARUHNYA DIATAS ALTAR UTUH DENGAN JANTUNGNYA. TIDAK DIPISAH. TIDAK DIPOTONG.
108. SI MISKIN : “Tuhan.. tolong sembuhkan sakit ibu hamba. Hilangkan lah gatal-gatal itu.”
SETELAH BERDOA, MEMOHON, MENYEMBAH. IA SEGERA MASUK KERUMAH. TAPI SEBELUM ITU.
109. SI MISKIN : “Tuhan.. hamba minta 3 yaa, makan malam hehe…”
SI MISKIN TERUS MELANJUTKAN HARI-HARI DENGAN BIASA. BEKERJA DI TEMPAT PAK RT. TAPI KALI INI ADA SATU KELAKUANNYA YANG TIDAK BIASA. SEBELUM MENGANTAR BERAS IA AKAN MENGAMBIL SEGENGGAM BERAS UNTUK DIKUMPULKANNYA DAN DIJADIKANNYA BAHAN UNTUK MENYEMBAH TUHAN.
110. NUR : “Pak, kenapa beras kami kayaknya kurang gitu yaa pak.”
111. PAK RT : “Kurang bagaimana?”
112. NUR : “Yaa kurang pak, biasanya dua kilo bisa untuk 3 hari.”
113. PAK RT : “Yoo, siapa tau anakmu makannya makin banyak.”
114. NUR : “Ndakk.. pak.. wong saya kasih porsinya sama terus.”
115. IYEM : “Iyoo lhoo pak, sama saya juga.”
116. PAK RT : “Sama berasnya mengurang?”
117. IYEM : “Rasanya beda saja sih pak, ada basinya.”
118. NUR : “Yee itu kamu saja yang salah mengolahnya. Wajar saja anakmu keracunan makan”
119. PAK RT : “Aneh, nanti saya cari tahu.”
120. NUR : “Tapi, saya lihat gelagat Kin aneh. Setiap habis mengantar beras, biasanya dia akan mengobrol basa-basi minta minum, kali ini dia langsung cepat-cepat pergi.”
121. IYEM : “Bener, Nur. Si Kin kayaknya aneh gitu, setiap mengantar beras makin banyak saja keringatnya. Nyembur, asem…”
122. NUR : “Itu dianya saja yang emang ngga bersih, kan dari dulu emang kumal.”
123. IYEM : “Kali ini lebih ngga bersih.”
WAKTU BERJALAN DENGAN CEPAT, LAMBAT LAUN PENYAKIT YANG DIDERITA OLEH IBU MULAI SEMBUH. GATAL-GATALNYA MENGURANG. SI MISKIN MAKIN GENCAR BERDOA, SEKARANG MEMINTA LEBIH, KEKAYAAN SEDIKIT SAMA TUHAN.
ADEGAN 4
KETIKA SEDANG MENGANTARKAN BERAS, SI KIN MENDAPAT REZEKI DITENGAH JALAN. SEGEPOK UANG. UANG JATUH DARI LANGIT. ALHAMDULILLAH. TUHAN SAYANG KIN.
124. SI MISKIN : “Astaganagaadragonn, baru semalam aku memberi sesembah plus dikit, langsung dikasih uang segepok dari langit. Tuhan memang baik. Sayang dengan orang miskin seperti kami”
DENGAN HATI SENANG MENGANTONGI SEGEPOK UANG DALAM KANTONG BAJUNYA, MEMBUAT CELANA YANG KARETNYA SUDAH TIDAK REKAT ITU MULAI TURUN-TURUN. TIDAK APA CELANA MELOROT, UANG SEGEPOK DI TANGAN.
125. BU RT : “ADUHH PAKKKK!! GASWATTT!!! BENAR-BENAR GASWATT INI BAPAKKKK.”
126. PAK RT : “Ibu tenangg dulu, tenang, pasti nanti ketemu.”
127. BU RT : “MANA BISA TENANG PAKK, ITU UANG ARISAN.”
128. PAK RT : “Nanti kita cari lagi.”
129. SI MISKIN : “Pak, rumah siapa lagi diantar.”
130. BU RT : “Knepa celanamu begitu Kin.”
131. SI MISKIN: “Ohh ini, hehe, hehe, hehehe.”
132. BU RT : “APA ITU KIN DALAM KANTONG CELANAMU.”
133. PAK RT : “Mangga, Kin?”
134. BU RT : “Bukan, bukan, bukan. ITU UANG YAA KIN?”
135. SI MISKIN : “Rezeki dari langit, ini semua atas saran ibu.”
136. BU RT : “Saran apa Kin?”
137. PAK RT : “YOOO GUSTIII, BUU ITU UANG KITA LIATT KARETNYA HIJAU.”
138. BU RT : “KIN!! KERJAMUU INI KIN. UDAH MISKIN MALAH MENCURI. SUDAH MENCURI MENDUAKAN TUHAN JUGA!!”
139. NUR : “OLALAHHH, SI MISKIN INI MENCURI TOH!! MENCURI BUAT ALTARNYA ITU? PANTAS SAJA PISANG SAYA TERUS-TERUSAN HILANG PADAHAL BARU BERBUAH.”
140. IYEM : “OHHH BERAS KURANG JUGA KARNA DIA. KIN, SAYA PERCAYA KAMU ORANG BAIK KIN… ngga sangka saya kin…”
141. BU RT : “BUKANN CUMA ITU BUIBU. DIA JUGA MENDUAKAN TUHAN, MEMBUAT ALTAR SEMBBAH-SEMBAH BIAR IBUNYA YANG GATAL-GATAL ITU SEMBUH.”
142. IYEM : “GATAL-GATAL ITU DARI IBUNYA SI MISKIN INII?!!! KINNNN SUAMI SAYA KINNN!! SUAMI SAYA IKUT GATAL-GATAL”
143. NUR : “SUAMI LOEEE JUGA YEM? BAPAK DARI ANAKKU JUGA YEM.”
144. PAK RT : “SUDAHH KITA BAWA SAJA KE SEMUA MASSA. KITA ADILI SEPERTI ORANG EROPA.”
AKHIRNYA SI MISKIN TANPA BISA MEMBUKTIKAN APAPUN, TANPA BISA MEMBELA DIRINYA SENDIRI, TANPA BISA KLARIFIKASI DISERET KE HADAPAN MASA. HUKUM EROPA KATANYA, PADAHAL YANG BENAR ADALAH HUKUM PRANCIS, MENGADILI YANG ATAS BUKAN YANG BAWAH MALANG NASIBNYA. KEMATIAN TIDAK BISA DIELAK, SI MISKIN YANG MALANG MATI DITANGAN WARGA, PAK RT, DAN KEBODOHAN.
BABAK 3
ADEGAN 1
MALAIKAT 1 : “Nah, sekarang kau sudah ingat bagaimana kau mati?”
MALAIKAT 2 : “Dunia ini tidak adil, kau sudah miskin masih dapat kemalangan lain juga.”
SI MISKIN : “Tapi kemalangan itu karna saya bodoh tuan malaikat.”
MALAIKAT 2 : “Tapi juga karna kamu dibodoh-bodohi yang lain.”
MALAIKAT 1 : “Benar, coba kau pikir lagi seyakin itu mau reinkarnasi?”
SI MISKIN : “Tidak masalah, tapi saya tetap jadi manusia kan?”
MALAIKAT 2 : “Tergantung kebaikanmu sih.”
MALAIKAT 1 : “Baik sih bai, tapi dia bodoh.”
MALAIKAT 2 : “Jadi batu saja bagaimana?”
SI MISKIN : “Kalau jadi batu, saya tidak hidup dong?”
MALAIKAT 2 : “Kamu jangan meremehkan kehidupan suatu batu. Batu bisa jadi indah karna banyak ditempah, bisa jadi alat melempar anjing liar juga.”
MALAIKAT 1 : “Hmmm, atau jadi keledai saja ya, kapasitas otaknya pas dengan keledai, bagaimana?”
SI MISKIN : “Nanti saya cuma bisa hiyaaa- hiyaa saja..”
MALAIKAT 1 : “Bisa juga mengantar barang seperti pekerjaanmu kemarin.”
SI MISKIN : “Hati saya baik.”
MALAIKAT 2 : “Benaran yakin?”
MALAIKAT 1 : “Sangat-sangat yakin mau kembali jadi manusia?
MALAIKAT 2 : “Yakinn tidak?”
MALAIKAT 1 : “Susah lhoo, jadi manusia.”
MALAIKAT 2 : “Ahhh ngga yakinn kan, ngga yakin pasti.”
MALAIKAT 1 : “Beneran percaya bisa jadi manusia baik?”
MALAIKAT 1 DAN 2 : “YAKIN TIDAK?, AHH NGGA YAKINN!, BENERAN YAKIN? YAKIN FIX FIX FIX NIH? YANG BENER? NANTI JADI ORANG JAHAT LHO? NANTI SUSAH LAGI HIDUPNYA, YAKIN NGGA? BENERAN YAKIN? CIUSS YAKIN? 200 PERSEN YAKIN? 100 PERSEN? ATAU 50 PERSEN YAKIN? MIAPAAAHH?? YAKINN CIUSS? AHHH IYAA NIH YAKIN BENERAN? KAMU BENERAN MAU? CIUS? YAKIN TIDAK YAKIN? YAKIN? YAKIN? YAKIN? YAKIN? YAKIN? YAKIN? YAKIN? TIDAK YAKIN? YAKIN? YAKIN? YAKIN? YAKIN? YAKIN? YAKIN? YAKIN? TIDAK YAKIN? YAKIN? YAKIN? YAKIN? YAKIN? YAKIN? YAKIN? YAKIN? TIDAK YAKIN? YAKIN? YAKIN? YAKIN? YAKIN? YAKIN? YAKIN? YAKIN? TIDAK YAKIN? YAKIN? YAKIN? YAKIN? YAKIN? YAKIN? YAKIN? YAKIN? TIDAK YAKIN? YAKIN? YAKIN? YAKIN? YAKIN? YAKIN? YAKIN? YAKIN? YAKIN? YAKIN? TIDAK YAKIN? YAKIN? YAKIN? YAKIN? YAKIN? YAKIN? YAKIN? YAKIN TIDAK?
SI MISKIN : “YAKIN. 1000 PERSEN YAKIN. CIUS YAKIN. MAU REINKARNASI. MAU HIDUP JADI MANUSIA.”
MALAIKAT 1 : “Yasudah, karna cius yakin. Tanda tangan dulu dokumen ini, lalu..”
MALAIKAT 2 : “Lanjut masuk gerbang sini, jangan menyesal.”
SI MISKIN : “Terima kasih tuan malaikat.”
ADEGAN 2
SI MISKIN MELEWATI GERBANG REINKARNASI DENGAN GEMBIRA. SENYUM TEPATRI DIWAJAHNYA. KEDUA MALAIKAT MENGGELENGKAN KEPALANYA, TIDAK PERCAYA ADA JIWA YANG SEKERAS KEPALA ITU UNTUK KEMBALI HIDUP KEDUNIA YANG FANA DAN MENUJU KEHANCURAN KARENA ULAHNYA SENDIRI. MANUSIA BODOH. MALAIKAT MELANJUTKAN ANTREAN JIWA REINKARNASI.
MALAIKAT 1 : “Antrian ke 6666, silahkan masuk ke dalam ruangan.”
MALAIKAT 2 : “Astaga, kau lagi?”
SI MISKIN : “Hehe, iya tuan malaikat.”
MALAIKAT 1 : “Apa lagi kali ini?”
SI MISKIN : “Aborsi, hehe.”
MALAIKAT 1 DAN MALAIKAT 2 : “ALAMAKKKKK!!!”
TAMAT

Tinggalkan Balasan